Mbak Ita Minta Korban Kekerasan Seksual Berani Melapor, Bisa Lewat Kentongan Digital

oleh
Ilustrasi kekerasan terhadap perempuan. Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu minta korban kekerasan, termasuk kekerasan seksual, berani melapor ke penegak hukum. (Foto: Ist)

Semarang – INFOPlus. Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu mendorong korban kekerasan maupun pelecehan seksual agar berani melapor. Laporan bisa disampaikan lewat aplikasi Kentongan Digital.

Mbak Ita, sapaan akrab Wali Kota Semarang, mengungkapkan Pemkot Semarang telah bekerja sama dengan Polrestabes Semarang membuat pelayanan digital yang disebut Kentongan Digital. Fitur ini berada di dalam aplikasi Libas inisiasi dari Polrestabes Semarang.

Inovasi ini disediakan untuk warga Kota Semarang yang membutuhkan pelayanan kepolisian. Di dalam aplikasi itu juga, masyarakat bisa meminta pertolongan darurat.

“Kami sudah melakukan kerja sama dengan Libas Polrestabes Semarang melalui aplikasi Kentongan Digital. Apabila orang tua atau anak mengalami kekerasan seksual, lewat aplikasi itu bisa menyalakan alarm ke kepolisian,” tuturnya, Senin (6/11).

INFO lain :  Operasi Sikat Jaran Candi 2023 Mengamankan Ratusan Tersangka

Menurut Mbak Ita, data kriminalitas menyebutkan aksi kekerasan seksual sering dilakukan oleh orang-orang terdekat korban. Seperti yang diungkap kepolisian Semarang belum lama ini, menimpa bocah 7 tahun warga Gayamsari.

Bocah tersebut ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Korban meninggal dunia dengan luka kekerasan seksual yang belakangan terungkap dilakukan oleh pamannya sendiri.

Berkaca dari kasus itu, Mbak Ita meminta kepada pihak terkait untuk intens melakukan sosialiasi agar masyarakat bisa melakukan perlawanan dan pencegahan dini sehingga tidak berdampak fatal.

INFO lain :  199 Jabatan Kades di Kendal Kosong di Akhir 2019

“Kita tidak bosan berhenti melakukan sosialisasi karena ini marak karena dipicu contoh gadget. Dan kalau bicara kekerasan seksual, pelaku banyak dari sekitar lingkungan korban,” paparnya.

Upaya-upaya lain juga sudah dilakukan untuk mencegah terjadinya peristiwa kekerasan seksual, termasuk bullying di lingkungan pendidikan. Dirinya pun meminta Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang dan pondok pesantren gencar melakukan sosialisasi serta edukasi terkait pencegahan kekerasan seksual dan lainnya.

“Kalau di rumah kekerasan seksual, di sekolah ada bullying, ini tidak bisa dipisahkan. Saya sudah bicara Disdik membuat program dari RDRM (Rumah Duta Revolusi Mental) melakukan edukasi dan sosilaisasi. Tidak hanya Disdik tapi DP3A (Dinas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak) juga. Ini semua untuk kebaikan dan masa depan anak serta perempuan,” lanjutnya.

INFO lain :  Kakorlantas Siapkan Rekayasa Lalu lintas saat Arus Balik

Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Irwan Anwar mengatakan bahwa Aplikasi Libas termonitor langsung di Command Center Mapolrestabes Semarang selama 24 jam.

Masyarakat yang sudah mendownload aplikasi Libas berarti sudah membantu kepolisian dalam mendapatkan informasi terkait kejadian di Kota Semarang. Selain itu, dalam Command Center juga bisa memantau wilayah lainnya karena terintegrasi belasan ribu CCTV di Kota Semarang.