Belum Genap 2 Minggu, 2 Napi Lapas Kedungpane Semarang Tewas Gantung Diri di Kamar Mandi

oleh
Ilustrasi gantung diri.

Semarang – Seorang narapidana, warga binaan Lapas Kelas 1 Kedungpane Semarang kembali tewas, diduga bunuh diri, Selasa (6/9/2022). Korban bernama Aditya Wahyu Wijayanto bin Harsoyo ditemukan teman satu selnya tergantung di kamar mandi sel.

Tri Saptono Sambudji, Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Semarang membenarkan peristiwa itu. Tri mengatakan, kejadian diketahui sekitar pukul 3.20. Posisinya ditemukan tergantung di jendela tralis, setinggi sekitar 1 meter di kamar mandi. Korban yang divonis bersalah pada 9 Juni 2022 dengan pidana 1 tahun 2 bulan penjara atas perkara penggelapan itu menggantungkan diri sambil duduk dan mengangkat kakinya.

“Satu kamar dihuni 2 orang, karena kamarnya kecil sekitar 2×3 meter. Kami menanyakan ke teman satu kamar jika warga binaan itu selepas isya tidur. Saat jam 3.20 mau ke kamar mandi pintunya terganjal. Ketika di lihat posisinya sudah tergantung. Jadi kejadiannya tidak dilihat teman satu kamar,” jelas dia.

Atas kejadian itu, pihak Lapas langsung menghubungi Polsek Ngaliyan. Dari pemeriksaan petugas, kata dia, sekitar pukul 05.00 korban dinyatakan meninggal akibat bunuh diri.

Dari pemeriksaannya, lanjut dia, korban Aditya tidak ada masalah dengan warga binaan lain. Menurut teman satu selnya, kata dia, korban memiliki masalah dengan keluarga.

“Istrinya tidak mau menjadi penjamin pembebasan bersyarat. Istrinya pulang ke rumah orang tua. Padahal Oktober ini sebenarnya bisa bebas bersyarat kalau ada penjaminnya,” kata dia.

Belum Genap 2 Minggu

Kasus serupa, sebelumnya terjadi pada Sabtu 27 Agustus 2022 lalu. Korban bernama Sriyadi (52), ditemukan gantung diri di kamar mandi blok D kamar nomor 19 Lapas Kedungpane Semarang.

Informasinya, Niko Limarga, 20, teman satu sel korban yang pertama mengetahui menjelaskan, sekira pukul 06.00 saat dirinya hendak buang air kecil melihat korban sudah mengantung. Petugas kesehatan Lapas, Dr H Adhi Yustiawan yang memeriksa menemukan korban sudah meninggal dunia. Hidung dan kemaluannya diketahui mengeluarkan darah serta sperma.

Kapolsek Ngaliyan AKP Hendrie Suryo Liquisasono mengungkapkan, korban merupakan napi kasus pembunuhan dan divonis 13 tahun 6 bulan dan menjalani hukuman sekitar 10 tahun. Sisa hukumannya sekitar 3 tahun 7 bulan. Hasil pemeriksaan petugas Inavis Polrestabes Semarang, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan.

Penguatan Psikologis

Terkait dua kejadian itu, Kalapas menyatakan, pihaknya terus melakukan kontrol terhadap seluruh warga binaan. Menurutnya, tidak semua masalah pribadi warga binaan diungkapkan ke pembina. Sementara keputusan mengakhiri hidup itu, diakui, di luar kemampuannya.

“Di Lapas sudah memberikan fasilitas pendampingan psikologi, namun masalah tidak disampaikan ke psikiater. Sebenarnya kalau disampaikan ke petugas ya akan kami bantu selesaikan,” kata Tri Saptono Sambudji.

Upaya penguatan psikologi agar tidak memilih jalan pintas terus dilakukan lewat pembinaan. “Saya sampaikan jika ada masalah ke petugas supaya bisa diselesaikan melalui kedinasan. Lebih sosialisasi jangan sampai semudah itu menyelesaikan hidup. Justru menambah masalah bagi keluarga,” lanjutnya.

“Jangan sampai ada kejadian berulang lagi, kita lewat pendekatan keagamaan kepada masing-masing warga binaan. Kami sampaikan bergilir,” pungkasnya.

(rdi)