Nenek Pemakai Akta Kelahiran Palsu di Semarang Dihukum 5 Bulan Penjara

oleh
Ilustrasi pemalsuan akta kelahiran.

Semarang – Seorang warga Semarang dihukum 5 bulan penjara setelah terbukti memberikan keterangan tidak benar pembuatan akta kelahiran palsu untuk mendaftarkan cucunya, masuk sebagai peserta BPJS Kesehatan. Pelaku, Ersawati (45), warga di Jl.Padi raya No 9 Rt 04 Rw 011 Kel Gebangsari Kec genuk Kota Semarang atau di Jalan Muara Mas XIII no.48, RT.0, RW.03 Kel.Panggunglor, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang.

Ersawati tak sendiri. Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Semarang pemeriksa perkaranya juga menyatakan, ada pelaku lain yang terlibat, yakni Nur Hidayah Dwi Atmodjo, Pegawai Negeri Sipil di Disdukcapil Kota Semarang yang ditempatkan di TPDK ( Tempat Pendaftaran Dinas Kependudukan ) Kecamatan Semarang Utara.

Nur Hidayah di putusan Ersawati disebut majelis hakim terbukti memalsu akta kelahiran itu dan menerima imbalan Rp 10 juta. Nur sendiri hingga kini belum diproses hukum.

Putusan 5 bulan penjara dijatuhkan majelis hakim pada Selasa, tanggal 23 Agustus 2022 oleh Kadarwoko sebagai ketua, Salman Alfaris dan Taufan Rachmadi, anggota.

“Menyatakan Terdakwa Ersawati anak dari Alm. Amir Sugiarto terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana yang melakukan atau turut melakukan perbuatan menyuruh menempatkan keterangan palsu ke dalam surat autentik,”.

“Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa Ersawati anak dari Alm. Amir Sugiarto, dengan pidana penjara selama 5 bulan. Menyatakan masa penahanan yang telah dijalani oleh Terdakwa, dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan. Memerintahkan terdakwa tetap ditahan,” demikian isi amar putusannya.

Vonis hakim lebih ringan sebulan dari tuntutan jaksa penuntut umum Kejari Kota Semarang yang meminta agar Ersawati dipidana 6 bulan penjara.

Vonis dipertimbangkan, hal memberatkan: Perbuatannya mengaburkan identitas dan silsilah anak saksi korban. “Keadaan yang meringankan, Terdakwa mengakui terus terang dan menyesali atas perbuatannya. Mempunyai itikad baik dalam merawat bayi saksi korban yang pada kenyataanya juga merupakan cucu terdakwa. Perbuatan terdakwa dilatarbelakangi adanya keinginan untuk mendapatkan fasilitas BPJS untuk biaya perawatan anak saksi korban yang mengalami permasalahan pada jantungnya. Perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa, semula atas persetujuan bersama, namun karena ada perselisihan, selanjutnya dilaporkan oleh saksi korban,” kata hakim.

(rdi)