Dedi mengharapkan masyarakat lebih awas, lebih berhati-hati, dan cermat pada saat menggunakan ATM, serta mengirim data pribadi ke pihak lain. Termasuk agar tidak terkecoh dengan mengirim informasi pribadi ke call center, website, SMS, dan akun palsu yang mengaku sebagai akun resmi perbankan di sosial media.
“Serta tidak memberikan informasi PIN, password, dan OTP ke orang lain, meski itu masih keluarga terdekat. Dengan sikap waspada dan hati-hati, diharapkan nasabah terhindar dari aksi pelaku kejahatan yang terorganisir,” katanya.
Dedi juga menghimbau masyarakat untuk tetap menyimpan uangnya di bank, tidak perlu risau dengan sistem keamanan bank, sebab modus operandi yang dilakukan pelaku, umumnya memanfaatkan kelengahan nasabah dan bukan menjebol keamanan perbankan.
“Jadi memang ini kejahatan yang terorganisir. Ada yang mengambil data, menduplikasi, mencetak, menjual, dan mengambil duitnya. Pelaku cenderung mencari celah bagaimana teknologi bisa direkayasa, mereka terus mempelajari itu,” katanya.














