SEMARANG – Neraca Perdagangan Jawa Tengah pada Desember 2019 mengalamai defisit US$289,15 juta.
Ekspor Jawa Tengah, pada Desember 2019 sebesar US$733,36 juta. Sementara impor Jawa Tengah pada bulan tersebut mencapai US$1.022,52 juta.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng Sentot Bangun Widoyono mengatakan, ekspor Jawa Tengah pada Desember 2019 naik 5,61 %, dibanding November 2019, yaitu dari US$694,39 juta menjadi US$733,36 juta.
“Begitu pula jika dibandingkan Desember 2018, ekspor naik 8,72 %. Peningkatan ekspor Desember 2019 dibanding November 2019 disebabkan oleh naiknya ekspor nonmigas sebesar 8,48 % yaitu dari US$ 658,64 juta menjadi US$ 714,51 juta namun ekspor migas justru turun sebesar 47,27 persen dari US$ 35,75 juta pada bulan November menjadi US$ 18,85 juta pada bulan Desember 2019,” ujarnya, Senin (3/2).
Penurunan ekspor migas disebabkan oleh turunnya ekspor hasil minyak sebesar US$ 16,90 juta
(47,27 % ) dimana pada bulan sebelumnya yaitu bulan November 2019 sebesar US$35,75 juta,
pada bulan Desember 2019 menjadi US$ 18,85 juta.
Sedangkan untuk komoditas gas, gas alam dan minyak mentah Jawa Tengah tidak melakukan ekspor untuk komoditas tersebut pada bulan ini.
Sementara, nilai impor Jawa Tengah Desember 2019 mencapai US$1.022,52 juta atau turun US$144,10 juta (12,35 %) dibanding November 2019.
Hal tersebut disebabkan oleh turunnya nilai impor migas sebesar US$94,11 juta (20,23 %).
“Begitu pula impor nonmigas juga mengalami penurunan sebesar US$ 49,99 juta (7,13 %). Penurunan impor migas dipicu oleh turunnya nilai impor minyak mentah sebesar US$73,05 juta atau 17,17 %,” sebutnya.
Sementara itu, inflasi Jateng pada Januari 2020 tercatat sebesar 0,09%, lebih rendah dibandingkan dengan inflasi Desember 2019, yaitu sebesar 0,45%.
Menurut Sentot, penyebab utama inflasi di Jateng pada Januari 2020 adalah kenaikan harga cabai merah, minyak goreng, cabai rawit, mobil, dan bawang putih.
Kenaikan harga cabai merah dan cabai rawit karena musim penghujan sehingga pasokan ke pasar berkurang sedangkan permintaan komoditas tersebut masih tinggi.
“Kenaikan harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbangkan inflasi sebesar 1,64%,” ujarnya.
Lebih lanjut, Sentot menyatakan inflasi tertinggi di Jateng terjadi di Kota Tegal sebesar 0,34% dengan dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 104,17 disusul Kota Purwokerto sebesar 0,32% dengan IHK sebesar 103,23.(mht)















