
BATANG – Sarana dan prasana Sekolah Luar Biasa (SLB) di kabupaten Batang dinilai belum memadai. Hal itu juga diakui bupati Batang Wihaji.
Padahal SLB menjadi satu-satunya tempat menuntut ilmu dari anak-anak difabel yang ada di Kabupaten Batang.
“Murid-murid yang sekolah di sini berasal dari berbagai daerah di Batang, karena hingga kini memang hanya ada satu. Karena itulah, saya selaku kepala daerah berkewajiban untuk membantu pengembanganya,” ujar Bupati Batang, Wihaji, Jumat (29/11).
SLB Batang, jelas Wihaji, mempunyai murid dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Untuk pengelolaanya sendiri saat ini berada di pihak Provinsi Jawa Tengah.
“Namun karena letaknya yang ada di Batang dan murid-muridnya juga dari Batang, tentu kita juga tidak boleh hanya berdiam diri,” sebutnya.
Wihaji mengaku sudah mendapat penjelasan dari kepala sekolah. Ada beberapa sarana dan prasarana yang masih kurang.
“Salah satunya toilet untuk difabel. Karena itulah, kita siap untuk membantu pembangunanya agar bisa dimanfaatkan oleh para murid,” tegasnya.
Namun, lanjut Wihaji, karena kewenangannya berada di pihak Provinsi, maka pihak Pemkab Batang akan berkoordinasi terlebih dahulu.
“Jika memang nanti dimungkinkan, maka kita siap membantu kekurangan yang ada. Sehingga anak-anak kita bisa belajar dengan nyaman seperti saudara-saudaranya yang lain,” tegasnya.
Kepala SLB Batang Jarwo mengatakan, untuk saat ini masih ada beberapa kekurangan yang perlu dibenahi atau ditambah.
“Termasuk jumlah guru, karena meskipun sudah mendapat tambahan sepuluh CPNS baru, namun masih kurang,” jelasnya.
Selain itu, sarana dan prasarana yang ada juga masih perlu dibenahi. Termasuk daya tampung.
“Saat ini kita baru bisa menerim 200 anak saja, dari sekitar 600 anak berkebutuhan khusus yang terdaftar,” tandasnya. (mht)
















