Hipertensi dan Diabetes Melitus Jadi Penyakit Dominan di Jawa Tengah

oleh
oleh

SEMARANG – Hipertensi, diabetes melitus, dan jantung menjadi sejumlah penyakit tidak menular yang dominan menghinggapi masyarakat Jawa Tengah.

Kondisi ini tercermin dari kasus yang dicatat Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Tengah dari tahun ke tahun.

Mengutip data dari buku saku kesehatan Dinkes Jateng hingga triwulan kedua tahun 2019 ini, kasus hipertensi telah terjadi pada 661.926 orang atau 68,02 % . Selanjutnya, disusul diabetes melitus dengan 156.062 atau 16,04 %. Sementara angka kasus penyakit jantung sebanyak 19.446 orang atau 2%.

Padahal pada tahun 2018, kasus penyakit jantung berada di rangking pertama. Pada tahun tersebut, kasus penyakit jantung menimpa kepada 2.913.304 orang atau 44,04 %, disusul hipertensi dengan 1.463.818 orang atau 22,13 %. Sementara diabetes melitus berada di peringkat ketiga dengan 971.518 orang atau 14,69 %.

INFO lain :  Pencuri Embat Mobil saat Pemiliknya Tutup Garasi dan Cuci Tangan

Tahun sebelumnya, yakni 2017 kasus tertinggi masih hipertensi dengan 635.545 orang atau 57 % disusul diabetes melitus sebanyak 971.518 orang atau 14,69 %. Tren ini hampir sama dengan tahun 2016 kas dimana kasus hipertensi mencapai 379.084 orang atau 55,03 % disusul diabetes melitus sebanyak 120.654 atau 17,51%.

INFO lain :  Warga Wonosobo Gelar Pilkaret Rasa Pilgub

Hal serupa juga terlihat pada tahun 2015. Kasus tertinggi hipertensi berada di peringkat pertama dengan 324.320 orang atau 54,75% disusul diabetes melitus sebanyak 100.448 orang.

Kepala Dinkes Jateng Yulianto Prabowo menyatakan, telah menyiapkan sejumlah strategi untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Sebagai upaya menekan angka kesakitan dan kematian terhadap penyakit menular (PM) maupun penyakit tidak menular (PTM), dibutuhkan kerjasama semua pihak.

“Kami punya target mengeliminasi berbagai kasus kesehatan hingga 2028. Untuk menuju ke sana, ada beberapa tahap yang musti dilakukan,” katanya.

INFO lain :  Ketua PAN Jateng Kembalikan Rp 600 Juta Uang Suap untuk Taufik Kurniawan

Menurutnya, ada berbagai tahap yang dilakukan untuk meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat. Mulai dari menemukan kasus, mengobati, mempertahankan dan yang terakhir menyembuhkan.

Karena itu dari evaluasi yang dilakukan, ia mendorong Dinas Kesehatan daerah untuk dapat menemukan penyakit atau kasus-kasus kesehatan yang selama ini tidak nampak di permukaan, sehingga nantinya bisa segera ditangani.

Meski demikian, pihaknya menegaskan bahwa persoalan kesehatan tidak hanya menjadi tanggung jawab dari pemerintah. “Sebab itu, keterlibatan masyarakat sangat diperlukan,” tandasnya. (mht)