Pekalongan – Jembatan Kaligenteg Kabupaten Pekalongan yang ambruk, Rabu (12/12) sore kemarin, berdampak pada putusnya akses jalur kendaraan pada empat belas desa di Kabupaten Pekalongan. Sebanyak 10 desa di sisi selatan jembatan dan 4 desa di sisi utara jembatan di Kecamatan Kandangserang.
Akibat ambrolnya jembatan, aktivitas warga terganggu. Warga dari selatan jembatan yang mau ke sekolah di ibukota kecamatan terpaksa jalan kaki. Demikianpula mereka yang mau ke pasar di Kecamatan Kandangserang.
Jembatan sepanjang sekitar 55 meter tersebut sekaligus menghubungkan warga Kandangserang untuk menuju ke dua wilayah Kabupaten yakni Kabupaten Pemalang dan Kabupaten Banjarnegara.
Sedianya telah ada jembatan baru yang berada persis di sebelah jembatan lama yang roboh. Namun jembatan baru tersebut belum bisa difungsikan mengingat umur cor beton yang baru dua hari. Warga hanya bisa melintas dengan jalan kaki.
Bupati Pekalongan, Aship Kholbihi mengaku akan segera bertindak agar aktifitas warga tetap berjalan.
“Saat ini hanya bisa dilalui pejalan kaki di jembatan yang baru. Untuk kendaraan roda dua akan diupayakan bisa diakses pada tiga atau lima hari kedepan,” jelasnya.
Jembatan yang roboh, jelas dia, adalah jembatan lama kondisinya memang sudah mengkhawatirkan dan sebelumnya masyarakat sudah diberi peringatan karena jembatan sudah lapuk dan tergerus aliran sungai.
“Jembatan ini jembatan yang memang bangunan lama yang dibangun pada zaman kolonial belanda, dan pernah diperbaiki sekitar tahun 70an,” tutur Asip.
Kepala DPU Kabupaten Pekalongan, Wahyu Kuncoro menambahkan jembatan lama yang rubuh pada bulan Agustus yang lalu sudah ada rekomendasi untuk tidak digunakan bahkan sudah dipasang portal.
“Rubuhnya jembatan juga karena faktor umur yang sudah tua, untuk jembatan baru masih belum bisa difungsikan, namun masih diupayakan bagi pejalan kaki dan sepeda motor,” katanya.
Sementara itu, dengan terputusnya akses jalan kegiatan warga mengakui terganggu.
“Anak-anak sekolah, warga yang mau ke kecamatan dan pasar, juga ikut terganggu. Kalau muter selisih jarak satu jam,” kata Wagyo (43) warga desa setempat.
Puji Lestari salah satu siswa SMP Kandangserang, mengaku banyak teman-teman yang lebih memilih bolos karena sepeda motor hanya sampai di selatan jembatan. Puji Lestari tidak sendirian, dirinya bersama teman-teman lainnya mendapat tumpangan angkut gratis yang telah disediakan pihak pemerintah kabupaten untuk mengangkut warga.
Sedikitnya ada empat armada 4×4 yang siap mengangkut warga untuk mengantarkan ke ibukota Kecamatan Kandangserang. Mobil ini dari Dinas Sosial, BPBD dan Dinas Perhubungan serta Polri yang stanby di utara jembatan.
















