“Namun keduanya dinilai rendah pada aspek religiusitas,” tukas Hendri.
Menakar Kekuatan Politik Ulama di Pilpres 2019
“Ulama ikut bersuara mencalonkan siapa di pilpres kepada pemilih yang menganggap pemimpin mereka kurang religius,” kata Hendri.
Sementara faktor kedua, Hendri mengakui peran ulama bisa menjadi efektif untuk memberikan pengaruh terhadap panggung politik terutama setelah meningkatnya isu pemerintahan saat ini yang cenderung anti Islam. Pola pikir masyarakat, menurut Hendri, akan mudah terpengaruh jika ulama yang mereka ikuti sudah mengatakan jika rezim tertentu tidak adil terhadap umat Islam. Hal itu terlihat dalam pilkada DKI Jakarta tahun lalu dan nampaknya masih akan berlanjut hingga pilrpres tahun depan.
“Ketika ulamanya bilang pilih pemimpin yang pro Islam, masyarakat bisa terpengaruh,” lanjut Hendri.
Faktor ketiga, kata Hendri, pemilih saat ini lebih mendasarkan pilihannya berdasarkan emosional. Hendri mengatakan faktor suka dan tidak suka terhadap capres dan cawapres lebih kuat ketimbang program yang ditawarkan.
“Suka tidak suka pola pemilih saat ini memilih pemimpin berdasarkan emosi. Kalau begitu, masayarakat akan mudah terpengaruh terhadap arahan ulama. Jadi bisa sangat efektif karena ulama memiliki umat yang banyak,” kata Hendri.
Masyarakat, saat ini masih menanggap ulama mampu memberikan saran dan pendapatnya kepada calon pasangan mengenai program-program pemerintahan yang akan dijalankan.
“Ulama sangat penting peranannya dala relasi politik, ekonomi, sosial dan budaya,” kata Emrus kepada CNNIndonesia.com, Minggu (29/7).
“Jika pasangan capres cawapres atau tim sukses tidak lagi sejalan dengan apa yang sudah diperintahkan oleh ulama, maka akan ditinggalkan,” kata Emrus.
Selain kubu opisis, strategi memasang ulama juga digunakan oleh kubu petahana. Beberapa waktu belakangan, nama-nama ulama seperti Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amin, mantan Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsuddin, tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Mahfud MD dan tokoh Nahdlatul Wathan TGB Zainul Majdi juga menguat menjadi kandidat cawapres. Langkah ini dilakuakan untuk merangkul dan merebut suara umat Islam yang sudah terpolasrisasi jelang pilpres.
(DAL/edit)
















