Magelang – Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta kembali meletus freatik, pada Senin (21/5/2018). Letusan terjadi selama 6 menit dengan tinggi asap 1.200 meter dan angin condong ke arah barat.
Menurut keteangan tertulis dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hujan abu tipis terjadi Srumbung, Kaliurang dan Kemiren setelah letusan freatik kecil yang pertama.
“Letusan kedua diperkirakan jatuh di daerah sekitar barat di wilayah Kabupaten Magelang dengan jarak yang tidak jauh dari puncak Gunung Merapi,” tulis Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangannya.
Setelah letusan, kegempaan yang terekam di beberapa Pos Pengamatan Gunung Merapi tidak mengalami perubahan dan suhu kawah mengalami penurunan. Aktivitas kegempaan dan vulkanik tidak ada lonjakan.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) tetap menetapkan status Normal (level I). Tidak ada kenaikan status dari Gunung Merapi.
Masyarakat diimbau tetap tenang, tidak perlu panik dan masyarakat belum perlu mengungsi. Masyarakat dapat beraktivitas seperti biasa serta mengantisipasi hujan abu di sekitar Gunung Merapi.
Kegiatan pendakian Gunung Merapi direkomendasikan hanya sampai di Pasar Bubrah kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana. Kondisi morfologi puncak Gunung Merapi saat ini rawan terjadi longsor sehingga sangat berbahaya bagi keselamatan pendaki.
BNPB memastikan akan terus berkoordinasi dengan PVMBG dan BPBD dan telah mengambil langkah-langkah antisipasi.
“Pasca-letusan Gunung Merapi 2010 lalu telah memberikan banyak pembelajaran. Saat ini tingkat kesiapsiagaan pemda dan masyarakat dalam menghadapi letusan Gunung Merapi telah lebih baik,” tulis Sutopo. (edi)
















