Pada tahun 1979 – 1980 Masyarakat Kota Surabaya dihebohkan oleh seorang buronan penjahat besar yang bernama KUSNI KASDUT.
Seorang mantan pejuang kemerdekaan, yang karena kecewa tidak bisa bergabung dengan TNI dia akhirnya melakukan berbagai kasus perampokan dan pembunuhan. Diantaranya : Merampok seorang hartawan Arab bernama Ali Badjened di Jakarta pada tanggal 11 Agustus 1953. Sang hartawan, yang hendak melawan, terbunuh oleh aksi komplotan Kusni ini.
Aksi selanjutnya yang tak terlupakan adalah perampokan Museum Nasional Indonesia alias Museum Gajah yang di Merdeka Barat, Jakarta. Pada tanggal 31 Mei 1961. Letaknya tak jauh dari Kantor Kementerian Pertahanan dan tak jauh dari Istana Merdeka, tempat tinggal Presiden Sukarno.
Dengan menyamar sebagai polisi dan memakai Jeep, Kusni dan gengnya merampok museum yang menyimpan bemda benda berharga sejak zaman kerajaan di Nusantara. Dalam aksinya yang mirip adegan film itu, para perampok menyandera pengunjung dan menembak Seorang petugas di museum. Komplotan tersebut berhasil membawa 11 butir berlian.
Berkat upaya keras kepolisian akhirnya Kusni Kasdut bisa ditangkap dan berpindah pindah penjara. Pada tahun 1969 pengadilan Semarang menjatuhkan vonis hukuman mati untuknya. Selama menanti eksekusi, tercatat 8 kali Kusni melarikan diri dari penjara dan ditangkap kembali.
Pelarian terakhir yang membuat warga Jawa Timur heboh adalah ketika dia melarikan diri dari LP Lowokwaru Malang pada tanggal 10 September 1979. Saat itu dia menjadi buronan yang paling dicari di Indonesia.
KAPOLRI waktu itu Jendral Polisi Awaloedin Djamin memerintahkan jajaran Polda Jatim untuk segera menangkapnya.
Kowiltabes Surabaya (sekarang Polrestabes Surabaya) mencium keberadaannya di Surabaya dan membentuk tim khusus yang dipimpin oleh Dansatserse Kowiltabes Surabaya Mayor Pol. Drs. Ashar Suryobroto (almarhum, pangkat terakhir Brigjen) membentuk tim khusus yang terdiri dari 15 orang anggota reskrim. Pada saat melakukan penyelidikan ada informasi dari bhayangkari (istri anggota Polri) bahwa dia melihat seorang yang mempunyai ciri -ciri seperti yang disebutkan di koran untuk buronan Kusni Kasdut, diantaranya berjalan pincang (karena luka tembak saat jadi pejuang). Waktu itu surat kabar di Surabaya jumlahnya tidak banyak sehingga perhatian publik bisa fokus kepada sebuah peristiwa saja.
Tim reserse kemudian bergerak ke daerah yang dimaksud. Beberapa hari kemudian tepatnya pada tanggal 17 Oktober 1979 sekitar pukul 19.30 Kusni Kasdut berhasil ditangkap kembali di Jalan Pandegiling Surabaya. Meskipun melakukan perlawanan tapi dia dapat diringkus. Bahkan seorang anggota polisi sempat ada yang digigit tangannya oleh Kusni Kasdut. Penangkapan tersebut menarik perhatian warga karena berlangsung di tengah-tengah keramaian warga. Dari penangkapan itu polisi berhasil menyita senjata api jenis vickers dan 50 butir peluru.
Pada saat diperiksa setelah penangkapan, Kusni menyampaikan terima kasih kepada polisi, karena dia ditangkap dalam keadaan hidup. Dalam pelariannya dia banyak berlindung di teman temannya mantan napi yang ada di Surabaya. Rupanya dia punya catatan lengkap keberadaan teman temannya mantan napi di Surabaya.
Kapolri Jendral Awaloedin Djamin begitu mendengar kabar tersebut datang ke Kowiltabes Surabaya ke sel tempat Kusni Kasdut ditahan untuk melihat sendiri buronan yang beberapa kali melarikan diri dari penjara.
Kusni sempat mengajukan grasi. Namun berdasar Surat Keputusan Presiden No. 32/G/1979 tertanggal 10 November 1979, permohonan grasi ditolak Presiden Soeharto.
Pada tanggal16 Februari 1980. Kusni Kasdut dieksekusi oleh regu tembak di Gresik.
Peristiwa penangkapan ini diabadikan di museum hoofdbureau Polrestabes Surabaya, sebagai literasi sejarah untuk generasi penerus POLRI.(*)
AKHIR PELARIAN KUSNI KASDUT BURONAN BESAR PERAMPOK MUSEUM NASIONAL















