BRIGJEN POL. DHANI HERNANDO : AKSI EKSTRIMISME SEKOLAH, PENGARUH MEDSOS, MITIGASI INTERNASIONAL BNPT

oleh

Jakarta-INFOPlus. Dua dekade lalu, berita tentang kekerasan ekstrem di lingkungan sekolah—seperti penembakan massal—hanya menjadi tajuk berita internasional dari belahan dunia Barat, khususnya Amerika Serikat. Namun hari ini, fenomena tersebut telah menyebar ke seluruh penjuru dunia termasuk kawasan regional Asia Tenggara. Pola kekerasan di kalangan remaja tidak lagi sekadar kenakalan biasa, melainkan telah bermutasi menjadi ancaman berbasis ekstremisme yang memakan korban jiwa.
Di Filipina, insiden penembakan di lingkungan sekolah tercatat terjadi dua kali pada tahun 2024, mencakup wilayah kampus dan sekolah menengah di Luzon serta Mindanao. Pola identik ini kembali berulang pada tahun 2026 dengan aktor yang sama: pelaku di bawah umur, korban yang dipilih secara acak, dan didorong oleh motif nihilistik. Sementara itu di Thailand, luka lama akibat tragedi Siam Paragon pada tahun 2023 kembali terbuka ketika insiden serupa terulang di lingkungan sekolah pada tahun 2026.
Indonesia pun tidak luput dari dinamika ini, dengan garis waktu kekerasan yang terus memanjang dan berevolusi. Titik awalnya dapat ditarik dari hampir satu dekade hang lalu kasus kekerasan yang memakan korban jiwa di salah satu SMA terbaik di Indonesia di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2017. Benih kekerasan tersebut berevolusi menjadi serangan yang jauh lebih ekstrem, seperti yang terjadi di sebuah SMA di Jakarta pada November 2025, dan disusul oleh insiden di sekolah keagamaan menengah di Padang, Sumatera Barat pada Juli 2026. Ketiga manifesto kekerasan ini bukan lagi sekadar perundungan (bullying) konvensional, melainkan telah masuk ke dalam klaster ekstremisme kekerasan (violent extremis) yang dipengaruhi kuat oleh media sosial (medsos). Kita harus jujur mengakui bahwa Asia Tenggara kini tengah menghadapi fenomena school extremism dengan karakteristik dan wajahnya sendiri.

INFO lain :  Sekolah Lansia Bahtera Standar 2 di Ubhara Jaya Resmi Dibuka Kembali
INFO lain :  PNS Ini Berani Ancam Brigjen Polisi dengan Senjata Tajam

Empat Wajah Ekstremisme di Lingkungan Sekolah
terbagi dalam empat tipologi utama ekstremisme kekerasan yang kini mengintai generasi muda:

1. Nihilistic Violent Extremism (NVE)
NVE merupakan bentuk kekerasan ekstrem yang dilakukan tanpa distimulasi oleh motif ideologi politik maupun agama tertentu; motif utamanya adalah tindakan kekerasan itu sendiri. Manifestasi psikologis dari pelaku NVE adalah pencarian eksistensi, hasrat untuk merasakan kuasa, urgensi untuk menjadi viral, hingga pembalasan dendam terhadap tatanan dunia yang dianggap tidak adil.
Dalam perspektif sosiologi dan kriminologi, fenomena ini berkelindan erat dengan General Strain Theory (Teori Ketegangan Umum), di mana pelaku mengalami tekanan psikososial yang berat akibat kegagalan interpersonal atau pengucilan lingkungan, yang kemudian berujung pada ledakan agresi dengan sasaran korban acak. Aksi-aksi ini pun kerap didokumentasikan secara mandiri oleh pelaku. Pola penembakan sekolah di Filipina (2024 dan 2026) serta Thailand (2026) merupakan representasi nyata dari klaster NVE ini.