HUT ke-81 KAI, Argo Merbabu Hadirkan Nuansa Vintage dan Sastra di Stasiun Tawang

oleh

SEMARANG,INFOPlus – Perayaan HUT ke-81 PT Kereta Api Indonesia (Persero) di wilayah Daop 4 Semarang, Senin (28/9), tidak hanya menghadirkan nuansa sejarah melalui KA Argo Merbabu. KAI juga membawa sastra dan budaya ke Stasiun Semarang Tawang.
Manager Humas KAI Daop 4 Semarang Luqman Arif mengatakan, KA Argo Merbabu tampil dengan vintage livery yang terinspirasi dari kereta seri ABL-9000. Livery tersebut merupakan hasil kolaborasi KAI Daop 4 Semarang dan Indonesian Railway Preservation Society (IRPS).
Satu rangkaian KA Argo Merbabu yang menggunakan livery tersebut terdiri atas sembilan kereta eksekutif New Image, satu kereta makan New Image hasil modifikasi Balai Yasa Tegal, dan satu kereta pembangkit. Total kapasitasnya mencapai 450 tempat duduk.
Dengan kapasitas tersebut, KA Argo Merbabu dapat melayani hingga 450 pelanggan dalam setiap perjalanan pada relasi Semarang Tawang–Gambir pulang pergi.
Kehadiran rangkaian dengan vintage livery tetap mempertahankan fungsi utamanya sebagai sarana layanan pelanggan. Di sisi lain, tampilan eksteriornya membawa kembali nuansa sejarah perkeretaapian Indonesia melalui desain yang terinspirasi dari kereta seri ABL-9000.
ABL-9000 mulai digunakan Djawatan Kereta Api pada 1954. Kereta tersebut pernah melayani sejumlah perjalanan ekspres dan memiliki catatan sejarah dalam perjalanan peserta Konferensi Asia-Afrika pada 1955.
Namun, perayaan HUT ke-81 KAI kali ini tidak hanya berbicara tentang kereta dan sejarah perkeretaapian.
Di Stasiun Semarang Tawang, KAI menghadirkan pembacaan puisi
“Di Stasiun Tawang” karya Louis-Philippe Dalembert. Kegiatan tersebut berkolaborasi dengan sastrawan dan akademisi Triyanto Triwikromo serta Ucik Fuadhiyah, dosen sekaligus sastrawati dan peneliti.
Stasiun Tawang yang berdiri sejak 1914 menjadi ruang bertemunya sejarah perkeretaapian dengan cerita manusia—tentang perjalanan, pertemuan, perpisahan, hingga perubahan zaman.
Lebih lanjut Luqman menyebutkan kereta api tidak hanya dapat dilihat dari sarana dan perjalanan, tetapi juga dari budaya yang tumbuh di sekitarnya.
“Kereta api dan sastra memiliki satu ruang pertemuan yang sama, yaitu manusia dan perjalanannya,” jelasnya.
Melalui vintage livery dan pembacaan puisi tersebut, KAI ingin menunjukkan bahwa kereta api bukan sekadar alat transportasi, tetapi juga bagian dari sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat.(Kar/Ts)

INFO lain :  Januari-Juli, 130 Buron Ditangkap Kejaksaan