Pelajar Batang Diingatkan Bahaya Seks Bebas dan Narkoba 

oleh

Batang – Perkembangan teknologi yang luar biasa mempengaruhi cara berpikir dan perilaku dan menyebabkan para pelajar lebih banyak berinteraksi dengan telepon pintar atau gadget daripada berinteraksi dengan teman-temannya. Pendidikan karakter yang telah diperintahkan pada setiap satuan pendidikan mulai dari tingkat Paud hingga SMA diharapkan, terus digiatkan.

Pernyataan itu diungkapkan Bupati Batang, Wihaji saat menjadi Inspektur Upacara dalam rangka Hari Pendidikan Nasional dengan tema “Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan” di Alun-alun Kabupaten Batang, Rabu (2/5/2018). Bupati juga mengingatkan, maraknya peredaran gelap dan penyalahgunaan narkoba yang merusak masa depan bangsa.

“Para pendidik, orang tua serta pelajar, jangan pernah mencoba, bergaul dengan mereka yang terlibat penyalahgunaan narkoba,” kata Wihaji, juga mengingatkan para remaja tentang bahaya sex bebas.

INFO lain :  Soal Rencana Penggusuran di Tegal, DPRD dan PT KAI Belum Ada Titik Temu

Peringatan Hari Pendidikan Nasional dimeriahkan dengan penampilan Senam PAUD Holistik Integratif 364 peserta dari Satuan Pendidikan Anak Usia Dini se-Kabupaten Batang. Serta Tari Batik dan Simo Gringsing oleh pelajar SMP.

INFO lain :  Angka Ekspor Tembus Rp313 Miliar

Upacara tersebut dihadiri oleh Bupati Batang Wihaji, Wakil Bupati Batang Suyono, Ketua DPRD I Teguh Raharjo, Forkopimda, dan pelajar SD hingga SMA.

Menurutnya, penguatan karakter dan literasi warga negara merupakan bagian penting yang menjadi ruh dalam kinerja pendidikan dan kebudayaan. Hal itu memerlukan pelibatan semua komponen bangsa sebagaimana Ki Hajar Dewantara menempatkan hal ini dalam tripusat pendidikan, yaitu sekolah, rumah, dan masyarakat.

INFO lain :  Ekspor Impor Jawa Tengah Dipastikan Masih Berjalan Meski Banjir Rob Semarang

“Salah satu bentuk penguatan tripusat pendidikan adalah pelibatan keluarga dalam mendukung sukses pendidikan anak dan penguatan karakter,” tutur Bupati Batang.

Dikatakannya, pendidikan tidak bisa diurus sendiri, dalam hal ini pemerintah semata, tapi juga para pengamat pendidikan, pelaku pendidikan yakni, pelajar, guru dan orang tua. (edi)