Jadi Waktu Terbaik Gali Potensi Anak

oleh
oleh

SEMARANG – Di masa pandemi Covid-19, gawai menjadi barang tak terpisahkan saat Belajar Dari Rumah (BDR). Bak bumerang, gawai juga menimbulkan efek buruk pada penggunanya, terutama pada anak usia balita. Bagaimana pengelolaan gawai untuk mendukung pembelajaran dari rumah?

Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Jawa Tengah Atikoh Ganjar Pranowo mengungkapkan, di masa pandemi, pembelajaran untuk siswa PAUD hendaknya jangan sampai melibatkan tatap muka.

Karena, pada usia tersebut, anak belum bisa dipahamkan tentang arti menjaga jarak, ketika bertemu teman-temannya. Oleh karena itu, ia berharap seluruh pendidikan PAUD di Jateng tak melangsungkan pendidikan tatap muka.

INFO lain :  Hore...Pemkab Kendal Bangun Area Hot Spot Gratis di Lima Lokasi ini

Diakui, pembelajaran dari rumah membuat orangtua, khususnya ibu, merasa terbebani. Terlebih, jika keseharian orangtua bekerja. Akibatnya, tak jarang di antara mereka menjadi “guru dadakan” yang galak. Apalagi jika panduan pembelajaran dari sekolah dianggap memberatkan.

Agar pembelajaran di rumah tetap nyaman dan menyenangkan, Atikoh menyarankan agar pihak sekolah melibatkan orangtua dalam membuat kurikulum pembelajaran, termasuk waktu pembelajaran.

Orangtua pun bisa membuat suasana yang hampir sama dengan kebiasaan saat bersekolah, misalnya menggunakam seragam atau pakaian rapi yang disukai anak, membawa buku, tas, atau perlengkapan sekolah lainnya.

“Bisa menggunakan gawai, tapi jangan sampai orangtua yang tidak punya gawai tidak bisa memberi pendidikan pada anaknya. Penggunaan gawai pun mutlak didampingi orangtua agar anak tidak ketergantungan pada gawai,” tegasnya, Jumat (18/9).

INFO lain :  Kasus Pertama Positif Corona di Brebes dari Klaster Gowa

Meski pembelajaran dilakukan dengan pendampingan orangtua, namun menurut Atikoh, guru juga mesti memberikan panduan kepada orangtua terkait pembelajaran tematik. Baik agama, moral, fisik dan motorik, kognitif, dan sebagainya.

Dia menunjuk contoh, pengenalan sayuran bisa dilakukan dengan berbagai pendekatan. Dari aspek agama, dijelaskan jika sayur merupakan ciptaan Tuhan yang harus dipelihara dengan baik. Dengan begitu, diharakan muncul empati jika tanaman saja harus disayang, apalagi sesama manusia.

INFO lain :  Temukan Dompet Ibu Kades, Pesulap di Kebumen Kembalikan ke Polisi

Dari aspek fisik dan motorik, anak dapat diajarkan cara memasak sayur, sambil dijelaskan manfaatnya bagi tubuh. Pembelajaran kognitif bisa dengan mengenalkan warna dan bentuk sayuran, kemudian secara sosial emosional anak diberi pemahaman tanggung jawab menanam sayuran.

Untuk menambah keterampilan berbahasa, anak bisa diminta menceritakan kembali apa yang sudah diajarkan, aktivitas keseharian, dan sebagainya.

Atikoh pun memberikan tips agar pendampingan belajar di rumah berhasil. Antara lain, mengajak anak berdiskusi, membangun komunikasi dengan guru, misalnya bagaimana pola pembelajaran sehingga anak tak kehilangan ritme saat di sekolah.