Ilustrasi beras Bulog
Semarang (Infoplus) – Joni Nur Azhari, Kepala Bulog Divre Jateng membantah pihaknya terlibat aksi Operasi Pasar (OP) beras bulog fiktif di Kota Semarang. Aksi penjualan beras bulog ke luar Jawa itu dilakukan mitra bulog tanpa sepengetahuan pihaknya. Joni mengakui modus tersebut terjadi sebagaimana diungkap Polrestabes Semarang beberapa waktu lalu.k
“Dia (mitra) ingin menjual beras OP ke luar Jawa. Padahal itu beras OP. Alhamdulilah Satgas Pangan menindak. Tidak ada sepengetahuan kami (bulog). Pasti kami tidak boleh itu,” kata Joni kepada wartawan dihubungi, Selasa (6/2).
Modus penjualan beras bulog ke luar Jawa yang seharusnya untuk OP diungkapkan Nurul Huda, Juru Timbang nonaktif pada Gudang Baru Bulog (GBB) Randugarut Semarang. Atas perintah bulog pusat ke Divre dan Subdivre di wilayah agar mengelar Operasi Pasar, disebutnya kerap diselewengkan. Beras OP hanya sebagian kecil dijual di pasar, sementara sebagian besar dijual ke luar Jawa dengan harga tinggi.
“Modus itu biasa dimainkan bulog. Seperti di GBB Mangkang Kulon dulu era Pak Sudarmono (kepala gudang/ terpidana korupsi). Saat ada perintah OP di Jateng, beras tidak disalurkan ke masyarakat. Tapi justeru dijual ke luar Jawa. OP beras hanya digelar sebagian untuk bahan Lpj, sementara mayoritas dijual ke luar Jawa,” kata Nurul yang kini berstatus terdakwa perkara dugaan korupsi itu mengungkapkan kepada wartawan di Pengadilan Tipikor Semarang, Senin (5/2).
Modus lain, diungkapkan Nurul, adanya GD fiktif, yaitu ketidaksesuaian antara catatan jumlah beras masuk dengan fisik saat pengadaan. Modus, pengiriman beras bulog berkualitas buruk oleh rekanan. Modus, pengadaan beras oleh Satgas bulog selaku rekanan. Serta, mencuri, mengeluarkan beras dari gudang dan menjualnya secara ilegal.
Diketahui, kasus penyelundupan 48 ton beras OP Jateng yang rencananya akan dijual ke Kalimantan berhasil digagalkan polisi di Pelabuhan Tanjung Emas beberapa waktu lalu. Bahkan, mitra bulog, pengirim beras bernam Esti Isniaty sudah menyiapkan total 240 ton beras OP di Jateng yang rencananya akan dijual ke Kalimantan dengan harga yang lebih mahal.
Joni Nur Azhari nengakui, 240 ton beras itu seharus beredar dalam OP di Semarang.
“Itu beras OP untuk Semarang. Beras dari gudang di wilayah di Semarang,”kata dia.
Joni membantah terlibat penjualan beras ke luar Jawa. “Rekanan dengan bulog sudah putus karena beras sudah dibeli mitra. Ada semacam fakta integritas dengan bulog. Dia (mitra) punya tangungjawab menyalurkan beras OP di wilayah Jateng dengan harga yang sudah ditentukan. Tapi kemudian dibawa ke luar daerah, itu yang tidak boleh,” kata Joni mengaku telah mencoret perusahaan milik Esti Isniaty, asal Demak sebagai mitra bulog.
Sementara, terkait modus GD fiktif atau ketidaksesuaian antara catata dan fisik beras di GBB, Joni mengakui hal itu sebagai penyimpangan. “Kami laporkan ke pihak berwajib. Mengantisipasi itu, kami kini melengkapi dengan sarana. Seperti di GBB Sudivre Semarang dipasang kamera CCTV. Kami juga akan memperketat internal kontrol. Masing-masing gudang punya tanggungjawab mengawasi, kesesuai antara adminitrasi dengan fisik. Kepala gudang yang tidak performance akan langsung kami ganti,” terang Joni.
Kasus penggagalan penyelundupan beras OP oleh Polrestabes Semarang dilimpahkan ke Ditreskrimsus Polda Jateng. Penanganannya dilimpahkan karena Polda memiliki wilayah penyidikan melingkupi Semarang dan Demak. Polisi diketahui belum menetapkan tersangka dalam perkara itu.
Kasus penyimpangan beras bulog, Senin (5/2) lalu juga diungkap Ditreskrimsus atas praktik pengoplosan beras bulog di Cilacap. Beras rakyat itu dikemas ulang sebagai beras premium berharga tinggi.
Beras bulog dibeli dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan Rp 8.350 perkilogram sebanyak 141 ton senilai Rp 1,3 miliar dikemas berkarung premium dan dijual Rp 10.000 perkg.
“Pelaku memanipulasi. Mitra membeli beras bulog. Karungnya boleh diganti tapi itu (kasus Cilacap) diganti berkarung premium dan dijual ke premium. Harusnya dia jual HET Medium OP Rp 9.350, tapi menurut Polda dijual Rp 10 ribu. Itu yang tidak boleh,” kata Kepala Bulog Jateng, Joni Nur Azhari.edi















