Hanif Dhakiri Ajak Kader PKB Belajar dari Kasus Nokia

oleh
oleh

SALATIGA, Anggota DPRD dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) diminta memiliki visi yang besar. Wakil Ketua Umum DPP PKB M Hanif Dhakiri mengatakan, dengan memiliki visi besar, maka akan bisa mengawal berbagai kebijakan yang ada demi mensejahterakan masyarakat.

“Karena itu, ketika terpilih menjadi anggota dewan, bukan akhir perjalan. Tapi baru dimulai apa yang harus dijalani,” ujarnya saat membuka Workshop bagi anggota DPRD provinsi dan kabupaten/kota dari PKB se-Jawa Tengah, di Salatiga, Jumat (14/12) malam.

INFO lain :  Tutup Tol, Warga Brebes Korban Banjir Protes

Meski demikian, mantan menteri Tenaga Kerja RI ini meminta para anggota dewan FPKB tetap menempatkan partai di posisi utama, agar keberadaannya terus tumbuh ke depan. Dia juga mengingatkan, bahwa anggota dewan adalah etalase dari sebuah toko.

“Toko ini adalah parpol. Jika menarik, maka akan membuat orang masuk. Minimal melihat-lihat dulu, apakah kemudian beli atau tidak, itu belakangan,” katanya.

Menurutnya, parpol bisa memberi peran nyata, lewat peranan anggota dewan. Karena itu dia meminta semua harus solid dan kompak, termasuk menjaga dinamika partai di semua tingkatan. “Reward dan punishment tetap harus berjalan. Ini semua juga demi bisa keluar dari keterbatasan partai,” jelasnya.

INFO lain :  Beli Sabu dari Napi, Montir Nyabu Ngaku Biar Kuat

Dalam kesempatan itu, Hanif juga menyampaikan akan terus menguatkan disiplin partai bagi para kader. Kebijakan itu dilakukan, agar partai semakin kuat. “Jangan jadi beban. Keterbatasan partai terus disonggo bareng-bareng, agar partai punya kekuatan dalam menghadapi kompetisi,” katanya.

Apalagi, kata Hanif, PKB terbilang partai yang “tidak punya” apa-apa, seperti kekuatan finansial maupun media. “Ini bukan soal uang, atau kontribusi. Disiplin ini untuk mendorong ke arah yang semakin baik. Karena untuk jadi dewan, wasilahnya adalah parpol,” terangnya.

INFO lain :  8 Hotel di Jateng Gunakan Elpiji Subsidi

Hanif juga mengajak semua pengurus untuk terus melakukan perubahan, dan inovasi. Dia menegaskan, tanpa hal itu keberadaan partai bisa hilang. “Lihat kasus Nokia. Tanpa perubahan, disalip Blackberry, Iphone, hingga saat ini android. Jadi harus responsif pada perubahan,” tegasnya.(mht)