2. Religiously & Racially Motivated Violent Extremism (RMVE)
Tipologi ini merujuk pada kekerasan yang didorong oleh kebencian berbasis identitas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Di lingkungan sekolah, embrio RMVE sering kali berawal dari narasi eksklusi atau ejekan berbasis identitas di grup-grup obrolan digital siswa yang awalnya dianggap sekadar lelucon. Akibat efek anonimitas dunia maya dan pelepasan moral (moral disengagement), empati antarsiswa secara perlahan terkikis hingga memicu tindakan kekerasan kolektif seperti pengeroyokan fisik.
Data empiris menunjukkan urgensi dari ancaman ini: sepanjang periode Januari hingga Agustus 2026, Densus 88 antiteror mencatat sebanyak 137 anak di seluruh Indonesia telah dieksploitasi oleh jaringan RMVE. Proses indoktrinasi ini masuk melalui penetrasi pergaulan sebaya, infiltrasi pada forum pengajian tertutup, hingga komunikasi interaktif di dalam komunitas game online.
3. Composite Violent Extremism (CoVE)
CoVE merupakan bentuk ekstremisme hibrida yang menggabungkan berbagai spektrum kebencian, mulai dari adopsi teori konspirasi anti-otoritas, resistensi terhadap sistem pendidikan formal, hingga kebencian spesifik pada institusi sekolah itu sendiri. Anak-anak yang terpapar CoVE mengadopsi keyakinan bahwa figur guru adalah representasi musuh dan sekolah adalah sebuah bentuk penjara sistemik yang sah untuk dihancurkan. Distorsi kognitif ini secara masif dipicu oleh paparan konten-konten konspiratif algoritme media sosial seperti TikTok dan YouTube. Dalam banyak kasus, CoVE bertindak sebagai jembatan radikalisasi yang mengantarkan anak menuju klaster NVE atau RMVE.
4. True Crime Community (TCC)
Berada di dalam sub-keluarga CoVE, TCC saat ini dinilai sebagai fenomena transnasional yang paling progresif sekaligus berbahaya. TCC merupakan komunitas digital global yang terkoneksi melalui platform seperti Discord, Telegram, Reddit, Tech Haven, hingga aplikasi pesan terdeentralisasi berbasis Matrix open standard seperti Element.io. Komunitas ini secara terbuka mengidolakan para pelaku pembunuhan massal historis, seperti pelaku penembakan legendaris di Columbine High School. Anggota komunitas ini saling mendistribusikan konten sadis (gore video) serta manual taktis serangan sekolah demi meraih validasi di dunia maya.
Secara psikologis, fenomena TCC merupakan wujud kulminasi dari Social Learning Theory (Teori Pembelajaran Sosial) dari Albert Bandura, di mana anak-anak melakukan proses imitasi perilaku agresi dari figur yang mereka idolakan di ruang digital. Angka persebaran tren ini sangat mengkhawatirkan: sebanyak 620 anak yang tersebar di 34 provinsi terdeteksi memiliki keterkaitan dengan jaringan TCC selama periode Januari hingga Agustus 2026.
Tiga kasus ekstremisme sekolah di Indonesia telah terbukti secara faktual terpapar oleh doktrin TCC, yaitu:
Insiden SMA di Jakarta (November 2025)
Insiden SMP di Kalimantan Barat (Februari 2026)
Insiden Sekolah Keagamaan Menengah di Padang, Sumatera Barat (Juli 2026)
Secara akumulatif, hanya dalam kurun waktu delapan bulan di tahun 2026, sebanyak 757 anak di Indonesia telah bertransformasi menjadi korban sekaligus aktor yang terpapar oleh jaringan RMVE dan TCC.















