SEMARANG,INFOPlus.– Di tengah ketidakpastian ekonomi global, perekonomian Jawa Tengah tetap menunjukkan ketahanan yang kuat. Stabilitas harga yang terjaga menjadi salah satu faktor utama yang menopang pertumbuhan ekonomi daerah hingga mencapai 5,89 persen (year-on-year) pada Triwulan I 2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61 persen.
Hal itu diungkapkan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Jawa Tengah, Bayu Andy Prasetya dalam rilisnya, Rabu(29/7,)
Ia mengatakan inflasi Jawa Tengah pada Juni 2026 tercatat 2,92 persen (yoy), lebih rendah dari inflasi nasional sebesar 3,34 persen. Kondisi tersebut mencerminkan efektivitas pengendalian inflasi sekaligus menjaga daya beli masyarakat di tengah gejolak ekonomi dunia.
Selain pertumbuhan ekonomi yang kuat, berbagai indikator kesejahteraan juga membaik. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 4,24 persen, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meningkat menjadi 74,77, dan angka kemiskinan menurun menjadi 9,39 persen.
Di sisi fiskal, hingga 30 Juni 2026 APBN Regional Jawa Tengah mencatat pendapatan negara sebesar Rp60,98 triliun dan belanja negara Rp50,60 triliun, sehingga membukukan surplus Rp10,38 triliun.
Menurut Bayu, kondisi fiskal yang sehat menjadi modal penting untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mendukung pertumbuhan yang inklusif di tengah tantangan global yang masih berlangsung. (kar/Prie)













