Semarang – INFOPlus. Satu nama Balon Wali Kota Semarang dari kalangan perempuan, Hj Claudyna C Ningrum muncul ke permukaan. Seperti apa kiprah Mbak Dina selama ini?
Nama Hj Claudyna C Ningrum atau akrab disapa Mbak Dina sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Semarang, khususnya kaum perempuan. Aktivitasnya selama ini memang sering terfokus di pemberdayaan perempuan, selain sebagai kader Partai Gerindra.
“Perempuan itu dapat menghasilkan pendapatan sendiri meski bekerja dari rumah. Perempuan berdaya dapat meningkatkan percaya diri serta bukan menyaingi suami,” ungkap Mbak Dina, Selasa (30/7).
Mbak Dina berkomitmen akan memberikan pelatihan mengutamakan potensi kearifan lokal. Alhasil, setiap kecamatan memiliki ciri khas berbeda.
Pelatihan akan dibagi menjadi beberapa kategori seperti kerajinan, kuliner dan lainnya. Ke depan, dia pun akan menggandeng pihak swasta agar semakin banyak pelatihan diadakan demi menjangkau masyarakat.
Sedikit kilas balik, Mbak Dina sudah menggaungkan pemberdayaan perempuan sejak 10 tahun lalu. Saat itu, dia menggandeng ibu rumah tangga dimulai dari PKK, organisasi wanita hingga organisasi kepemudaan.
“Kami tidak hanya berfokus untuk perempuan sudah menikah saja melainkan menjangkau anak-anak muda. Kami ingin mereka siap membuka lapangan pekerjaan sendiri dan bersama-sama menyejahterakan keluarga,” kata dia.
Kala itu, dia menggagas pelatihan sulam pita dengan modal Rp10 Ribu. Peserta pelatihan bisa membukukan penghasilan dari menjual produk sulam pita untuk jilbab, baju, taplak meja serta kreasi lainnya.
“Mereka bisa menjual produk sendiri di lingkungan sekitar tanpa berbayar seperti memanfaatkan media sosial untuk lebih produktif,” terang Mbak Dina yang sempat menjadi Ketua Klaster Tas Kota Semarang 2014.
Di samping itu, pihaknya juga sudah memfasilitasi membawa produk UMKM ke luar negeri dengan biaya sendiri. Mbak Dina mendampingi para pelaku usaha rumahan dan membawa sampel produk menembus pasar internasional.
“Kami membuatkan foto produk dan menawarkan ke buyers. Usaha kami membawa produk rumahan di Kota Semarang memang belum rutin tapi sudah dilakukan beberapa kali,” sebutnya.
Saat aktif sebagai pengurus Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia Kota Semarang dan berkesempatan menjadi pembicara, ia menantang peserta yang memiliki potensi berwirausaha. Modal tersebut diberikan bertahap sesuai peluang usaha yang digagas.
“Pancingan modal untuk memulai usaha. Ada satu perempuan mendapatkan modal mulai Rp100 Ribu untuk usaha jamu seperti membeli bahan baku empon-empon. Ada juga untuk modal berjualan botok dan keripik pisang,” tutur pengusaha perempuan ini.
















