Diceritakan, program Ngopeni Sendang berawal dari penelitian di tahun 2016 yang dilakukan oleh Dinas Pertanian Kota Semarang mengenai kecukupan air untuk penyiraman perkebunan milik dinas tersebut. Dalam penelitian itu terungkap ada 60 titik sendang.
“Kemudian oleh Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) dilanjutkan dengan membuat identifikasi dan inventarisasi sendang yang ada di Kota Semarang. Akan tetapi hasilnya, tidak ada database mengenai titik dan koordinat wilayah sendang tersebut,” ungkapnya.
Ita melanjutkan, di tahun 2021 Bappeda menggandeng Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Semarang (Unnes), yang hasilnya dari 60 titik sendang berkembang menjadi 158 titik, Ratusan sendang itu tersebar di tiga kecamatan, yakni Mijen, Tembalang dan Kecamatan Gunungpati.
Manfaat dari sendang itu sendiri kata Ita, diantaranya untuk kebutuhan warga seperti mencuci, mandi, untuk air minum khususnya sendang yang airnya layak minum, serta bermanfaat untuk pertanian, peternak ikan, dan wisata.
Ita menambahkan, DLH Kota Semarang ke depannya akan mengajak kalangan mahasiswa terutama pecinta alam, dan masyarakat peduli lingkungan untuk bersama-sama mengelola sendang.
Selain itu, pihaknya juga ingin kolaborasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang terkait program perlindungan mata air karena anggarannya ada di dinas tersebut.
Perlu ditambahkan juga sebagai program yang berkelanjutan, DLH akan menanam bambu vegetasi di hulu mata air dengan tujuan agar iklim di sekitar sendang menjadi sejuk. []









