“Ini wujud penanganan kolaborasi, mulai dari anak remaja putri sampai ibu melahirkan, serta anaknya ini dirawat sampai besar. Ini pemberdayaan di mana kegiatan ini tidak hanya penanganan, tidak hanya anak saja atau ibu saja, tapi juga menjangkau ke ranah pemahaman remaja putri,” tuturnya.
Di sisi lain, Pemkot Semarang juga memiliki Rumah Pelita yang bisa digunakan untuk tempat penitipan anak. Di rumah itu, nantinya anak-anak akan mendapatkan penanganan kesehatan seperti dilakukan pemeriksaan baik itu dari gizi dan kondisi tubuhnya.
Sementara itu, Kepala BKKBN, dokter Hasto mengapresiasi upaya Pemkot Semarang di penanganan stunting hingga meraih penghargaan dari PBB. Hasto mengakui apa yang dilakukan Pemkot Semarang dalam percepatan penurunan stunting sangat tepat sasaran.
“Totally betul-betul mengatasi masalah yang by name by adress gitu. Contoh saja ada Rumah Pelita, jadi di Kota Semarang itu mengumpulkan anak-anak stunting menjadi satu kelas yang kemudian di situ diurus betul, diintervensi betul, diberikan makanan tambahan, di-treatment lingkungannya, sanitasinya. Jadi betul-betul anak stunting ditangani oleh tim dan Bu Wali Kota. Makanya wajarlah dapat penghargaan itu,” beber dia.
Ke depan, ia berharap apa yang sudah dilakukan di Kota Semarang bisa menjadi percontohan. Hasto menyebut, penanganan stunting harus masif dilakukan untuk menuju Indonesia generasi emas 2045. []












