Semarang – INFOPlus. Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah (Jateng) apresiasi Kota Semarang terus menunjukkan sebagai daerah dengan pemajuan toleransi.
Ketua FKUB Jateng, Taslim Sahlan mengatakan, berbagai peristiwa intoleran di Kota Semarang makin berkurang. Bahkan upaya merawat toleransi antarumat beragama hingga antaretnis terus mencuat.
Taslim menilai, kepemimpinan Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu atau yang disapa Mbak Ita dapat menjaga serta merawat dengan baik sehingga dianugerahi penghargaan oleh Setara Institute.
“Khususnya Kota Semarang kami dorong beberapa kali, bukan kami melakukan show off force tetapi terus berlatih menguatkan toleransi antarumat beragama,” kata Taslim, Sabtu (3/2).
Dia menyebut, Indeks Kota Toleran (IKT) yang diraih Ibu Kota Jateng tersebut berjalan sesuai niat dan tujuan awal menjaga toleransi. Pemkot juga telah menunjukkan kerja baik dalam mengawal toleransi.
“Salah satu indikator moderasi beragama adalah penguatan toleransi, di samping komitmen kebangsaan, dan akomodatif terhadap local wisdom,” ujarnya.
Dia menggambarkan suasana setiap Hari Raya Idul Fitri. Contohnya, di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Kota Semarang, para umat beragama datang memberikan ucapan selamat hari raya.
Begitu pula saat perayaan Waisak, para pemuka agama muslim, pendeta, romo, biksu hingga penghayat kepercayaan melakukan hal yang sama.
“Kami masuk ke Vihara untuk mengucapkan selamat merayakan Waisak,” kata Taslim.
Saling berkunjung inilah, menurutnya yang harus didorong. Namun, dia menyatakan Mbak Ita telah menunjukkan upaya untuk mengarah Kota Semarang terbebas dari intoleran.
“Kami sebagai pegiat toleransi berharap bisa zero intoleran,” katanya.
Dia mengambil peristiwa lain ihwal intoleran yang pernah terjadi di Kota Semarang. Misalnya pendirian Gereja Baptis Indonesia (GBI) di Jalan Malangsari, Tlogosari, Pedurungan bisa dibangun setelah 20 tahun lebih adanya penolakan.
“Kami, kawan-kawan lintas iman dan agama juga mendampingi gereja itu dibangun dengan baik sampai sekarang bisa digunakan. Perhatian Pemkot Semarang sampai sekarang juga terus ada,” ujarnya.
Kemudian pula, ketika umat Syiah menyelenggarakan Asyura mendapat gangguan dalam perayaannya. Pihaknya bersama pemerintah juga melakukan pendampingan.
“Bahkan kawan-kawan lintas agama datang merayakan. Saya kira Setara Institute memotretnya seperti itu,” ujarnya.
Sebelumnya diberitakan, Kota Semarang kembali melanjutkan tren positif dalam pemajuan toleransi. Ibu Kota Jateng tersebut menempati peringkat kelima Indeks Kota Toleran (IKT) 2023 dengan skor 6,230 yang digelar Setara Institute.












