Semarang – INFOPlus. Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu melakukan pantauan harga dan ketersediaan bahan pangan di sejumlah pasar tradisional dan pusat perbelanjaan modern. Mbak Ita, sapaannya, minta pedagang tak mremo saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Dari hasil pantauan, Mbak Ita memastikan stok bahan pangan masih cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di masa Nataru. Pun demikian di harga, terbilang stabil di jelang Natal ini.
Hanya saja pada saat tinjauan di Pasar Jatingaleh, Mbak Ita menemukan harga cabai yang masih tinggi dibanding harga di pasar lain, termasuk swalayan. Menurutnya, hal ini dikarenakan harga beli dari pedagang juga masih tinggi. Saat ini pihaknya masih menelusuri terkait perbandingan harga itu.
“Waktu Pak Mendag tinjaun di Pasar Bulu, harga cabai Rp 45 ribu tetapi di sini kok tadi pedagang menyampaikan Rp 100 ribu. Terus kami menyampaikan secara persuasif, ternyata turun jadi Rp 80 ribu. Memang harus diedukasi dan kemudian kita harus cari permasalahannya, tetapi kenapa di sini masih tinggi, kemudian kalau bicara di swalayan itu harga malah cenderung turun,” beber dia.
“Ini yang kita perlukan dan memang mungkin saja para penjual kulaknya masih tinggi, sehingga jualnya juga harus tinggi. Nah kalau di Pasar Bulu mungkin sudah habis, kemudian kulakan (harga) sudah turun,” lanjutnya.
Dalam kesempatan itu, Mbak Ita juga meminta pedagang tidak memanfaatkan momen Natal dan Tahun Baru dengan menaikkan harga lebih tinggi dari biasanya. Baginya, budaya mremo di momen tertentu justru bisa mematikan usaha mereka sendiri.
“Saya mengimbau pedagang, khususnya pedagang makanan atau kuliner jangan mremo. Kalau seperti itu bisa viral, daerahnya jelek dan membuat orang tidak mau datang lagi,” sebutnya
Tak hanya imbauan untuk para pedagang, Mbak Ita juga menyentil para tukang parkir yang kerap seenaknya menaikkan biaya parkir.
“Termasuk juga parkirnya, jangan mremo,” tegas dia.
Tak hanya di pasar tradisional dan modern, Wali Kota Semarang juga meninjau kesiapan Semarang Zoo menghadapi Nataru.
“Ini sudah memasuki libur sekolah sekaligus libur Nataru, persiapan-persiapan itu harus dimaksimalkan,” katanya.
Ia menyadari, di Semarang Zoo masih perlu banyak pembenahan. Masih ditemukan tempat kumuh dan perlu pembenahan, utamanya shelter UMKM
“Semarang Zoo ini masih separo-separo (pembangunan), sehingga membuat pengunjung kurang nyaman,” ujar dia.
“BUMD kan mengelola cash flow-nya sendiri, seperti SOP masuk dan perawatan. Apalagi banyak binatang buasnya. Semarang Zoo harus siap berbenah, agar wisawatan lebih nyaman dan senang saat berkunjung,” sambung Mbak Ita.















