Semarang-INFOPLus – Pensiun bukan berarti selesai mengabdi. Banyak orang mengalami post power syndrome menghadapi masa pensiun. Namun demkian, tidak dengan Achmad Yudi Suwarso (AYS). Menurutnya mengabdi bisa dimana saja, termasuk mewakili masyarakat di DPR RI. Siapa yang tak mengenal nama Drs Achmad Yudi Suwarso SH MH. Bagi warga masyarakat Jawa Tengah, tentu tak asing lantaran namanya lekat melalui momen-momen perannya mengendalikan Kamtibmas, utamanya penanganan kasus kriminalitas dan kejahatan Narkoba.
Yudi, panggilan akrabnya adalah seorang anggota Polri berpangkat terakhir Kombes Pol dan mengakhiri masa tugas pada pertengahan tahun 2023. Putra Mayor CPM Purn Ma’ruf ini masuk Pendidikan Akabri Kepolisian tahun 1989 dan punya karier cukup gemilang karena menguasai 4 bahasa, Jawa, Sunda, Inggris dan Jerman. Kepedulian AYS terhadap masyarakat tak perlu diragukan lagi.
Pemimpin satuan reserse di Poltabes Semarang tahun 2001
Sikap peduli terhadap masyarakat ditunjukkan di setiap perjalanan tugasnya, termasuk saat memimpin satuan reserse di Poltabes Semarang tahun 2001, dimana harus mengurusi kericuhan supporter sepakbola di Semarang. Yudi Pada Saat itu menjabat Kabag Ops Poltabes Semarang mampu tampil dengan gaya merangkul supporter sehingga mampu meredam aksi massa yang tak puas dengan hasil pertandingan di Stadion Jatidiri Semarang.
Dengan gaya komunikasi persuasif ini, Yudi justru menyelamatkan para pelaku rusuh dari potensi ancaman pidana. Pendekatan yang lebih membina ini justru menjadikan para supporter yang kecewa Terhadap Pemain padanya dan menurut arahan di setiap ada pertandingan.
Bahkan suatu saat di lapangan, sebelum pertandingan sepakbola dimulai, Yudi selalu tampil terdepan menenteng megaphone untuk meminta supporter tertib. Mereka yang terancam dan nyaris terlibat gesekan dengan supporter lain pun mampu diamankan hingga pulang menuju batas kota.
Yudi kala itu memang menjadi Polisi Bintang Pengayom Lapangan Bola. Konsep pengamanan dengan cara merangkul ini diakuinya tidak lepas dari apa yang dipetuahkan Sang Bapak.
“Ayah saya itu CPM Guntur yang dikenal garang terhadap pelaku pelanggaran, namun kepada saya selalu wanti-wanti agar tetap memanusiakan manusia meski dia melanggar, atau sekalipun penjahat. Jangan menorah dendam kepada siapapun, sebab perasaan dendam bisa berakibat tidak baik. Maka ini kunci yang selalu saya patuhi di setiap saya bertugas,” ujar Yudi, yang merupakan menantu dari Prof Dr Abu Su’ud, tokoh Muhammadiyah Jawa Tengah ini.
Terngiang pesan ayah
Yudi juga masih terngiang pesan Sang Ayah, terutama saat moment Hari TNI 5 Oktober. “Ayah itu sosok yang tegas dan bijaksana. Menurut saya dia prajurit sejati yang hidup mengedepankan kesetiaan dan kesederhanaan. Bahkan ketika saya lolos seleksi masuk Akabri Kepolisian tahun 1989, ayah merasa bangga anaknya menjadi calon perwira polisi, meski sejatinya pingin buah hatinya bisa mengikuti jejaknya di TNI,” kenangnya.















