Semarang – INFOPlus. Tumpukan sampah masih ditemukan di sejumlah aliran sungai di Kota Semarang. Lemahnya pengelolaan sampah tersebut menjadi indikasi penyebab Kota Semarang tak lagi meraih penghargaan Adipura.
Penghargaan Adipura diberikan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) sebagai apresiasi kepada pemerintah daerah yang mampu mengelola lingkungan dan kebersihan wilayahnya. Banyak parameter dalam penilaian penghargaan yang diberikan tiap tahun tersebut. Salah satunya tentang bagaimana menjaga kebersihan aliran sungai dari tumpukan sampah.
Kota Semarang sendiri pada tahun 2023 ini gagal meraih Adipura. Terakhir, Ibukota Jawa Tengah ini memperoleh Adipura pada 2017, Setelahnya, Kota Semarang seolah kesulitan untuk mempertahankan penghargaan tersebut.
Pengelolaan sampah yang buruk diindikasi menjadi sebab Kota Semarang kesulitan memperoleh Adipura lagi. Apalagi, pada tahun 2022, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang bertanggungjawab pada masalah kebersihan dan kelestarian lingkungan mendapat catatan yang kurang bagus dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Dari pemeriksaan keuangan BPK diketahui ada pembayaran pengangkutan sampah jalan protokol dan sampah pasar bulan September-Desember tidak sesuai volume riil sebesar Rp 6 miliar.
Ini sangat ironis, di kala upaya Pemkot Semarang menata estetika kota dengan membangun banyak taman dan penataan PKL, pengelolaan sampah malah menjadi batu sandungan sendiri untuk meraih Adipura.
Di sisi lain, masih banyaknya tumpukan sampah di aliran sungai menambah beban tersendiri bagi Kota Semarang mengejar Adipura. Sebut saja di Sungai Kalicaci, kawasan Tandang. Di sepanjang aliran sungai tersebut, mulai dari kawasan Ngemplak hingga Pasar Mrican, banyak tumpukan sampah plastik, limbah rumah tangga hingga daun dan potongan ranting berkumpul di sejumlah titik pinggir sungai.
“Kebanyakan memang sampah plastik maupun limbah rumah tangga. Ya karena memang sungai ini membelah pemukiman dan usaha di kawasan Tandang,” tutur Riyadi, warga Tandang.
Menurut Riyadi, semestinya dinas terkait membuat program yang mampu merangsang meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian dan kebersihan sungai. Bisa dengan kegiatan tematik seperti bersih sungai atau even lomba yang bertujuan menjaga kebersihan sungai. Dan program tersebut harus menyentuh anak sungai atau jangan hanya di sungai tengah kota saja.
“Kalau hanya njagakke (mengandalkan) kesadaran masyarakat tentu sulit, karenanya perlu rangsangan dari pemerintah. Apalagi Sungai Kalicaci ini merupakan anak sungai dari Banjir Kanal Timur. Kalau dari atas atau di sini bersih, maka muaranya juga akan bersih. Sehingga badan sungai mampu menampung volume air dan tidak terjadi luapan atau banjir,” beber dia.















