“Keempat guru besar yang baru saja dikukuhkan pada hari ini, sungguh menjadi inspirasi dan energi bagi civitas academica Unsoed untuk semakin merdeka dalam pilihan ragam karya, maju dalam kualitas karyanya, dan mendunia pengakuan akan hasil karyanya,” kata Rektor.
Sementara dalam pengukuhan guru besar tersebut, Prof. Hernayanti menyampaikan orasi ilmiahnya dengan judul “Bahaya Pencemaran Logam Berat Kadmium dan Penanggulangannya”.
Ia mengatakan paparan logam berat kadmium berdampak buruk terhadap lingkungan terutama perairan dan manusia. “Paparan Cd pada manusia menimbulkan gangguan kesehatan seperti hipertensi dan gangguan fungsi ginjal,” jelasnya.
Menurut dia, penanggulangan pencemaran Cd dari limbah industri dapat dilakukan dengan metode fitoremidiasi menggunakan tumbuhan air dan pada manusia menggunakan kelator alami dari buah tomat, daun teh hijau, dan pegagan.
Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Eutrofikasi, Sebuah Pembelajaran Instropeksi Diri dari Ekosistem Lentik”, Prof. Dwi Nugroho Wibowo mengatakan penggunaan pupuk yang berlebihan secara sembarangan dan tidak terkendali dalam praktik pertanian, pembuangan sejumlah besar bahan limbah domestik dan industri ke badan air menyebabkan masalah ekologis yang parah di lingkungan, yaitu eutrofikasi.
“Secara ekologis, eutrofikasi dapat didefinisikan sebagai beban nutrisi yang berlebihan di badan air atau pengayaan badan air oleh nutrisi,” katanya.
Dari segi fisika-kimia, kata dia, eutrofikasi menunjukkan penurunan kualitas air untuk keperluan rumah tangga, rekreasi, dan penggunaan lainnya.
Menurut dia, eutrofikasi telah menjadi masalah lingkungan perairan global karena konsekuensi ekologisnya seperti seringnya terjadi blooming algae yang mengancam pasokan air minum dan menyebabkan penipisan kandungan oksigen dari badan air.
Ia mengatakan wutrofikasi meningkatkan kebutuhan oksigen biologis (BOD) air, melepaskan gas beracun, mendorong pertumbuhan makrofita akuatik dan semua ini memiliki efek buruk pada pertumbuhan ikan, pemijahan ikan, penggunaan rumah tangga, dan bahkan navigasi.
“Meminimalkan eutrofikasi memerlukan upaya holistik dari beberapa parameter seperti faktor fisika-kimia air, antara lain dengan melakukan pemonitoran secara teratur, pengembangan deterjen bebas fosfat untuk keperluan rumah tangga, penghilangan ganggang dengan pengerukan, pengurangan penggunaan pupuk yang berlebihan dalam praktik pertanian, mekanisasi aerasi, dan pengolahan air limbah yang efektif,” jelasnya.
Selanjutnya, dalam orasi ilmiah berjudul “Kekuatan Bakteri Tersembunyi dalam Tanaman”, Prof. Nur Prihatiningsih mengatakan “bakteri tersembunyi” memiliki prospek yang strategis dikembangkan sebagai biopestisida yang mendukung pertanian berkelanjutan, sebagai alternatif substitusi pestisida kimia sintetik dan sebagai kunci dalam implementasi pengelolaan penyakit terpadu.
















