“Kami mengucapkan terima kasih untuk dukungan dan komitmen para mitra kerja yang luar biasa dalam pelaksanaan Program Bangga Kencana dan percepatan penurunan stunting di tahun 2022,” katanya.
Kepala BKKBN RI Hasto Wardoyo dalam kesempatan tersebut mengapresiasi keseriusan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menangani stunting dengan programnya Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng dan Jo Kawin Bocah.
Hasto menjelaskan tidak hanya dua program tersebut, hasil pantauan ke sejumlah Puskesmas di Jateng, seluruh Puskemas tidak memungut biaya untuk pemeriksaan prakonsepsi atau para calon pengantin.
“Stunting pasti pendek, tetapi pendek belum tentu stunting. Pada 1.000 hari pertama atau 24 bulan merupakan masa keemasan untuk mencegah stunting karena ubun-ubun akan menutup pada 24 bulan dan otak tidak akan bisa bertambah lagi,” kata Hasto.
Untuk mencegah stunting, lanjut Hasto diperlukan berbagi upaya yang dimulai sejak remaja, persiapan sebelum menikah, hingga saat sudah melahirkan sampai dengan menyusui.
Saat ini rapor Jawa Tengah terkait Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), dan Angka Kematian Balita (AKBa), termasuk perkawinan dini, kata Hasto, lebih rendah dibandingkan Jawa Barat dan Jawa Timur.
Angka kehamilan pada usia 15 tahun hingga 19 tahun di Jawa Tengah itu sebanyak 23 per seribu. Lebih rendah bila dibandingkan Jawa Barat yakni 24 per seribu, sedangkan di Jawa Timur ada 31 per seribu.
“Angka kematian bayinya juga bagus, 12 per seribu dan angka kematian balitanya juga Jawa Tengah ada 14 per seribu. Inilah prestasi Jawa Tengah saya kira terasa bahwa jumlah yang meninggal juga menurun,” katanya.
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menegaskan mengatasi stunting tidak boleh setengah-setengah. Apalagi Dana Alokasi Khusus untuk penanganan stunting sudah diserahkan ke daerah.
Sumber Antara
















