Semarang – Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada tahun 2023 akan tetap kuat di kisaran 4,5 persen-5,3 persen (yoy) dengan didorong dari sisi domestik, sementara sisi eksternal diperkirakan menurun.
“Kami optimis pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tahun ini di kisaran 4,5 persen sampai 5,3 persen, karena tingginya konsumsi pemerintah dan konsumsi rumah tangga,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah Rahmat Dwi Saputra, di Semarang, Kamis.
Rahmat menyebutkan dari sisi domestik konsumsi pemerintah disumbang dari sejumlah proyek pembangunan penyelesaian jalan tol tahun ini, serta masuknya investasi dengan adanya relokasi perusahaan baik penanam modal dalam negeri (PMDN) dan Penanam Modal asing (PMA) di Jawa Tengah.
Untuk melanjutkan tren pemulihan ekonomi Jawa Tengah yang berkesinambungan, lanjutnya, diperlukan langkah nyata dan sinergi kebijakan dalam mempertahankan produktivitas sektor-sektor utama dan menjaga iklim investasi tetap kondusif.
“Inflasi tahun 2023 juga diperkirakan akan kembali ke dalam sasaran 3,0 persen ± 1 persen. Penurunan inflasi tersebut didukung oleh harga komoditas pangan yang melandai seiring dengan peningkatan pasokan, ekspektasi inflasi yang semakin terkendali, serta perlambatan domestik demand akibat ketidakpastian global yang terus berlanjut,” katanya.
Januari 2023, inflasi Jawa Tengah tercatat sebesar 0,32 persen (mtm) atau lebih rendah dibandingkan inflasi nasional (0,34 persen; mtm). Penurunan inflasi disebabkan oleh inflasi komponen administered price yang dipengaruhi oleh penurunan harga bensin seiring dengan penyesuaian harga untuk beberapa jenis bensin terutama nonsubsidi.
Penurunan komponen AP juga dipengaruhi oleh penurunan tarif angkutan udara, sejalan dengan harga avtur dunia yang mulai melandai serta adanya penambahan jumlah dan rute maskapai pesawat seiring dengan pulihnya mobilitas masyarakat pasca-pandemi.
Menurut Rahmat dengan adanya kenaikan beberapa komoditas strategis seperti beras, aneka cabai, dan bawang merah menahan penurunan inflasi yang lebih dalam. Peningkatan harga pada komoditas tersebut disebabkan belum masuknya masa panen komoditas beras dan curah hujan yang tinggi.
“Bank Indonesia terus menjaga stabilitas dan meningkatkan efisiensi sistem pembayaran melalui penguatan kebijakan dan akselerasi digitalisasi sistem pembayaran untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi. Pada 2022, transaksi ekonomi dan keuangan digital berkembang pesat ditopang oleh kenaikan akseptasi dan preferensi masyarakat dalam berbelanja daring, luasnya dan mudahnya sistem pembayaran digital, serta cepatnya digital banking,” katanya.
















