“Sementara, residu yang digunakan untuk media maggot hanya sekitar 1-2 ton karena masih adanya keterbatasan bangunan yang belum sempurna, untuk paving sekitar 2 persennya (2 persen dari volume residu yang masuk TPA BLE), lalu sisanya diolah untuk RDF,” katanya.
Khusus untuk RDF, kata dia, ada yang diolah di TPA BLE dan ada pula yang dikirim ke pul di Wangon karena adanya keterbatasan alat pembuatan RDF.
“Di pul Wangon ada alat pembuatan RDF,” katanya.
Edi mengatakan produksi RDF di TPA BLE untuk sementara baru mencapai 6 ton per hari.
Oleh karena UPT TPA BLE belum berbadan hukum badan layanan umum daerah (BLUD), kata dia, sesuai dengan nota kesepahaman RDF tersebut diambil oleh koperasi atau KSM yang sudah bekerja sama dengan PT Solusi Bangun Indonesia Tbk Pabrik Cilacap.
Sumber Antara
















