Kejaksaan Jebloskan Dosen Unnes ke Lapas Karena Kasus Penipuan

oleh
Foto ilustrasi

Semarang РKejaksaan Negeri (Kejari) Kota Semarang menjebloskan seorang dosen Universitas Negeri Semarang (Unnes), Suluh Edhi Wibowo SS MHum bin alm. Bambang Widjanarko (47), ke Lapas Semarang  karena menjadi terpidana perkara penipuan.

Suluh dinyatakan terbukti bersalah melakukan pidana, jual beli tiga lahan calon Rumah Sakit USM (Universitas Semarang) dan dijatuhi pidana penjara 3 tahun.

“Dia (Suluh Edhi Wibowo) sudah dieksekusi beberapa waktu lalu. Ia sudah berada di Lapas Kedungpane Semarang,” ungkap Kepala Seksi Tindak Pidana Umum (Kasie Pidum) Kejari Kota Semarang, Edy Budianto kepada wartawan, Senin (19/9/2022).

Putusan bersalah terpidana Suluh dijatuhkan Mahkamah Agung (MA) 26 Januari 2022 lalu dalam perkara kasasi nomor 111 K /Pid/2022. MA membatalkan vonis lepas terhadap Suluh yang dijatuhkan Pengadilan Negeri Semarang 8 September 2021 silam dalam perkara nomor 381/Pid.B/2021PN Smg.

Penipuan yang menyeret Suluh Edhi terjadi 7 Februari 2015, berawal Yayasan Alumni Undip yang membutuhkan lahan untuk pembangunan Rumah Sakit USM (Universitas Semarang). Terdakwa menawarkan kepada Prof. Ir. Joetata Hadihardja selaku perwakilan dari yayasan tiga bidang tanah yakni SHM No.3113 seluas 1.089 m2, SHM No.3114 seluas 6.198 m2 dan SHM No.3115 seluas 5.168 m2. Ketiganya di wilayah Kelurahan Sambirejo Kecamatan Gayamsari atas nama Bambang Wijanarko. Harga kesepakatan Rp 2.250.000,-/m2 atau total Rp 28.023.750.000.

Meyakinkan pihak Yayasan Undip, Terdakwa menunjukkan foto copy ketiga SHM dan menjanjikan akan memberikan ketika sudah dilakukan pembayaran uang muka. Kesepakatan jual beli dibuat pada tanggal 7 Februari 2015 dan tanggal 2 September 2016. Atas hal itu telah dibayar bertahap total Rp 5,5 miliar.

Namun kenyataannya, Suluh Edhi Wibowo hanya bisa menyerahkan SHM No.3113 kepada Yayasan Alumni Undip Semarang pada 9 Mei 2018. Sementara SHM No.3114 dan No.3115 tidak diberikan karena diketahui Suluh tidak menguasainya.

Diketahui pada saat perjanjian dibuat SHM no.3114 dan No.3115 tidak ada dalam penguasaan Terdakwa melainkan dikuasai Hartopo. Hartopo menguasai karena sebelumnya telah melakukan kesepakatan jual beli dengan Bambang Widjanarko pada 22 April 2009 di hadapan notaris Wahyudi Suyanto SH.

Atas perbuatannya, Suluh dinilai merugikan Rp 5,5 miliar atau setidaknya Rp 3,049 miliar.

(rdi)