BOYOLALI – Warga di sejumlah desa di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah disiapsiagakan untuk menghadapi dampak erupsi Gunung Merapi setiap saat.
Siap siaga itu, menyusul peningkatan status aktivitas vulkanik gunung Merapi dari waspada ke siaga.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Boyolali Bambang Suningharjo menjelaskan pemkab sudah melakukan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan erupsi Merapi sejak 21 Juni 2020, ketika terjadi erupsi terakhir.
“Daerah yang masuk kawasan rawan bencana III erupsi Gunung Merapi, antara lain, Desa Klakah, Jrakah, dan Selo,” katanya, Jumat (6/11).
Kesiagaan itu antara lain menyangkut 100 ribu masker untuk mencegah warga dari gangguan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan logistik lainnya untuk membantu warga di pengungsian.
Kepala Desa Jrakah, Kecamatan Selo Tumar di Boyolali mengaku telah mengumpulkan tim siaga desa untuk pembekalan dan sosialisasi terkait dengan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi peningkatan status aktivitas vulkanik gunung tersebut.
Dia mengatakan tentang pentingnya masyarakat di kawasan Gunung Merapi tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan situasi gunung itu.
“Jika sewaktu-waktu Merapi erupsi, masyarakat sudah harus siap dengan berbagai perbekalan, termasuk surat-surat penting, untuk mengungsi,” jelasnya.
Kesiagaan itu, terutama bagi mereka yang tinggal di dusun yang masuk kawasan rawan bencana. Sejumlah pedukuhan di Desa Jrakah yang masuk KRB III, yakni Sepi, Sumber, Jarak, dan Jrakah.
“Mereka, suatu saat terjadi erupsi tinggal membawa bekalnya atau tas koper ke tempat pengungsian,” katanya.
Terkait dengan pengungsian, Pemerintah Desa Jrakah sudah menjalin kerja sama Program Desa Persaudaraan dengan Desa Karanggeneng, Kabupaten Boyolali. Jika Merapi sewaktu-waktu erupsi, warga Jrakah mengungsi ke Desa Karanggeneng, Kecamatan Boyolali. Namun, evakuasi warga ke pengungsian harus menunggu instruksi Pemkab Boyolali.(lia)
















