PATI – Sebanyak 1.500 ton garam di kabupaten Pati tidak terserap pasar. Penyebabnya, rata-rata kadar natrium klorida (NaCl) masih diangka 80 %.
Kabid Pengelolaan dan Pengembangan Produk Kelautan dan Perikanan, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati Johanes Harnoko mengatakan, dengan rata-rata NaCl di angka 80 %, maka garam tersebut hanya terserap untuk kebutuhan dapur. “1.500 ton garam ini hanya tertimbun di gudang,” ujarnya, Sabtu (24/10).
Dia menyebutkan, dari total 2.800 hektare tambak garam di kabupaten berjuluk Bumi Mina Tani, setiap tahunnya petani mampu memproduksi 350.000 ton.
“Garam dari Pati belum mampu menembus pasar industri, lantaran kadar NaCl untuk garam industri standar minimal 97 %,” jelasnya.
Pihaknya mengaku sempat ke sejumlah industri untuk menawarkan garam lokal, tetapi belum membuahkan hasil.
“Kami sempat ke beberapa pabrik di Bandung dan Solo untuk menawarkan, tetapi tidak mampu menembus,” bebernya.
Guna menyiasati hal tersebut, dibangun washing plan yang bertujuan untuk mengolah garam petani, sehingga layak sebagai garam industri. Anggarannya sendiri diperoleh dari APBD Provinsi Jawa Tengah.
“Sudah mulai dibangun tahun 2020 ini, hanya saja anggarannya terkena refocussing. Sehingga yang harusnya mulai beroperasi pada tahun 2021 kemungkinan tidak tepat waktu,” tandasnya. (ita).
















