SEMARANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah mulai fokus memetakan daerah rawan bencana kekeringan pada musim kemarau. Sebab 35 kabupaten/kota di provinsi ini masuk ke dalam daerah rawan kekeringan.
“Termasuk daerah aliran sungai (DAS) Pamali – Juwana yang meliputi Kudus, Demak, Pati dan Jepara. Sedangan DAS Bengawan Solo meliputi Klaten, Karanganyar, dan Sukoharjo,” ujar Kepala BPBD Jawa Tengah Sarwa Pramana, Jumat (3/7).
Sejauh ini, kata Sarwa, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan BPBD tingkat kota/kabupaten dalam menghadapi masa bencana tahunan ini. Sarwa memprediksi, puncak musim kemarau di Jawa Tengah terjadi pada Bulan Agustus. “Puncaknya itu bulan Agustus itu semua daerah di Jateng sudah musim kemarau,” terangnya.
Saat ini, jelas Sarwa, sudah ada 5 kabupaten yang meminta bantuan dropping air bersih kepada BPBD Jateng untuk mengatasi bencana kekeringan yang melanda wilayahnya. “Diantaranya Wonogiri, Kendal, dan Karanganyar,” bebernya.
Dalam menyalurkan bantuan air bersih ke daerah rawan kekeringan, BPBD bekerjasama dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).
“Kami akan terus memantau sebaran daerah rawan kekeringan di Jawa Tengah, supaya supplay air bersih dapat tetap sasaran,” tandasnya.(mht)















