Sampai Jumat, 18 Pasien Corona di Jateng Meninggal. Padahal Data Kamis Masih 7. Ini Penjelasannya

oleh
oleh

SEMARANG – Kasus korban meninggal dunia pasien positif corona di Jawa Tengah melonjak tajam. Laporan pada Kamis (2/4), pasien meninggal masih sebanyak 7 orang. Namun angka itu langsung berubah menjadi 18 orang pada Jumat (3/4), alias ada penambahan sebanyak 11 kasus.

Pemerintah Jawa Tengah menyebutkan data update pasien corona atau Covid-19 yang meninggal di Jawa Tengah hari ini, Jumat (3/4) sebanyak 11 orang merupakan akumulasi yang belum terlaporkan.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memastikan lonjakan pasien positif corona yang meninggal bukan merupakan kasus 24 jam terakhir.
“Bukan hari ini (3/4) meninggal 11. Itu akumulasi sejak pertama. Kita juga kaget tadi membacanya,” katanya, Jumat (3/4).

INFO lain :  Sengketa Pendaftaran Caleg, KPU dan PBB Damai Lewat Mediasi

Setelah dilakukan pelacakan detail, tidak ada kematian sampai 11 orang dalam 24 jam terakhir di Jawa Tengah. “Setelah di clearance tidak ada. Itu akumulatif,” katanya.

Kasus akumulatif ini terjadi, pada 8 Maret dimana ada dua kasus meninggal. Yakni satu perempuan berusia 59 tahun dan lelaki berusia 60 tahun. Kemudian 13 Maret perempuan 44 tahun. 

Pada 21 Maret laki-laki usia 77 tahun, 25 Maret laki-laki usia 22 tahun, 28 Maret laki-laki usia 65 tahun, 29 Maret laki-laki usia 70 tahun, dan 31 Maret laki-laki usia 62 tahun. 

INFO lain :  FKWI Berikan Penghargaan Kartini Award 2019 Enam Tokoh Indonesia

Kemudian pada 1 April ada tujuh pasien positif virus corona yang meninggal. Yakni lima laki-laki usia 64, 69, dan 45, 56, dan 43 tahun serta dua perempuan usia 67 dan 72 tahun. 
Terakhir pada 2 April ada dua laki-laki meninggal usia 64 tahun dan 73 tahun. 

Pada 2 April juga ada satu lagi yang meninggal. Data di Dinkes Jateng masih berstatus PDP dengan hasil tes yang belum diterima. “Namun kemungkinan besar positif,” kata Ganjar. 

INFO lain :  Nadiem Minta Maaf, Muhammadiyah Tetap Emoh Ikut Program Sang Menteri


Dari catatan medis yang dilaporkan ke dirinya secara lisan mereka memiliki penyakit bawaan. “Di rumah sakit lengkap laporannya,” terangnya.

Ganjar menjelaskan, korban yang terinfeksi virus corona dan akhirnya meninggal dunia, tercatat memiliki riwayat perjalanan dari daerah episentrum di Indonesia maupun luar negeri. 


“Ada banyak yang kejadian, misalnya mereka datang dari luar negeri di sana sudah sakit terus dibawa ke sini terus meninggal. Itu contoh saja,” terangnya.(mht)