SEMARANG – Seiring kemajuan teknologi di era globalisasi seperti sekarang, kaum Nahdliyin tetap menunjukkan eksistensinya dalam menegakkan ajaran agama Islam tanpa meninggalkan budaya Indonesia dan terus berupaya nguri-nguri budaya dan kearifan lokal.
Ketua PWNU Jateng KH Muzamil menambahkan, pagelaran wayang kulit semalam suntuk itu merupakan rangkaian kegiatan peringatan Harlah ke-97 NU. Pertunjukkan wayang kulit dengan lakon Wahyu Manunggaling Jati tersebut diharapkan membawa barokah untuk semua.
“Semua harus nguri-nguri budaya kearifan lokal Jawa Tengah. Apalagi pada zaman Sunan Kalijaga juga menggunakan wayang kulit sebagai sarana dakwah,” ujarnya dalam pembukaan pagelaran wayang kulit dalam rangka memperingati Hari Lahir ke-94 tahun Nahdlatul Ulama di Gedung PWNU Jateng, Jumat (6/3) malam.
Pagelaran wayang mengusung lakon Wahyu Manunggaling Jati. Diharapkan, engan acara tersebut semua bisa merenungi sekaligus nguri-nguri. “Bahwa ternyata sejak Sunan Kalijaga, kita sudah diberikan pencerahan bagaimana untuk mengkolaborasikan antara budaya dengan ajaran-ajaran agama,” terangnya.
Penjabat Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Herru Setiadhie menjelaskan, melalui pagelaran wayang kulit dengan lakon “Manunggaling Jati” yang berarti wahyu ketenteraman yang dimainkan oleh dalang Ki Iksanudin asal Demak, masyarakat diharapkan dapat belajar bijak.
Seperti para pendahulu yang cakap menggabungkan antara ajaran keimanan sekaligus menonjolkan kepiawaian cara berseni.
“Wayang pun sangat elok sehingga masyarakat pada saat itu hingga saat ini atau di era kemajuan teknologi dan informasi, dapat meresapi bagaimana membimbing nurani kehidupan dengan secara sukarela atau tanpa paksaan melalui kearifan lokal yang bernuansa Islam,” katanya. (mht)















