Masa itu aku jalani sampai akhirnya aku kenal dengan seorang tamu, sebut Akbar. Dia sering karaoke bersamaku. Meski kutahu dia sudah berkeluarga, namun aku menyukainya. Dan Akbar pun juga sebaliknya.
Akbar sering main dan tidur ke kosanku di daerah Gajahmungkur Kota Semarang. Maklum saja, sejak aku menjadi PK aku memilih pindah ke yang “bebas”.
Beberapa minggu dan bulan kami lalu bersama, layaknya suami isteri. Bahkan setiap bulan, Akbar selalu memberiku jatah uang belanja Rp 700 ribu sampai Rp 1,5 juta. Dan aku tetap menjadi PK.
Kondisi berubah saat kutahu aku hamil hasil hubunganku dengan Akbar. Lambat laun, perutku semaki membesar dan tak bisa kusembunyikan lagi kehamilan ini.
Aku gelap mata seolah tak mampu menerima kenyataan ini. Apalagi sejak itu Akbar sudah menghilang seolah tak bertanggungjawab.
Memasuki usia sekitar 6 bulan akhirnya aku putuskan menggugurkan janin ini. Aku merasa tak bisa jujur mengungkap kenyataan ini.
Seolah mengulang apa yang pernah kulakukan setahun sebelumnya. Maret 2016 petang aku berencana melakukan aborsi atas janin bayiku sendiri.
Sebelumnya aku lebih dahulu meminum obat pemicu janin bayi “Cytotex” sebanyak 10 tablet yang sekaligus. Obat itu aku peroleh dari temanku bernama Toha yang juga bekerja di tempat karaoke. Kepadanya aku berikan uang Rp 1,5 juta agar dibelikan obat aborsi. Entah darimana dapatnya, Toha datang memberikanku.
Efek mengkonsumsi obat itu, awalnya aku merasakan perut mulas seperti ingin buang air besar akan tetapi tidak bisa. Lalu aku pergi menuju kamar mandi di depan kamar kos.
Di sana aku langsung melahirkan bayi perempuan beserta ari-arinya dalam posisi jongkok di atas kloset kamar mandi. Saat itu kondisi bayi sudah dalam keadaan meninggal dunia.
Setelah beristirahat sebentar untuk memulihkan tenaga dengan cara bersandar ke dinding belakang kloset, aku kemudian memegang bayi tersebut dengan kedua tangannya dan memasukkannya ke dalam baskom plastik yang sebelumnya aku persiapkan.
Bayi tersebut aku mandikan. Aku juga sempat mengambil foto sebanyak 4 kali dengan menggunakan handphone. Setelah itu ari-ari bayi tersebut aku potong dan bungkus menggunakan kain kafan yang sebelumnya aku beli pada saat menggugurkan kandungan yang pertama pada September 2015.
Aku lalu menutup mulut bayi dengan kapas putih dan memberi wewangian di sekujur tubuh bayi. Setelah itu bayi sudah terbungkus kain kafan lalu aku masukkan ke dalam baskom plastik dan kuletakkan di lorong kamar mandi.
Malamnya, aku menelpon Toha menyampaikan janin sudah keluar. “Sudah diurus belum” tanya Toha. Kujawab, ” belum,”.













