Semarang – Pelantikan Pengurus Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Jawa Tengah periode 2019 – 2024 digelar di halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah, Sabtu (2/2/2019) malam.
Pelantikan ketua dan seluruh pengurus dipimpin Ketua Pepadi Pusat, Kondang Sutrisno. Mantan Bupati Sragen H Untung Wiyono resmi menjabat sebagai Ketua Pepadi Jawa Tengah hingga lima tahun mendatang. Sementara, Ketua Harian dijabat Widodo Brotosedjati.
Usai pelantikan digelar pertunjukan tiga lakon dari tiga dalang kondang. Ki Manteb Sudarsono dari Solo memainkan lakon Brubuh Ngalengka, Ki Sigit Arianto dari Rembang dengan lakon Sombo Juwing, dan Ki Sigit Adisabdo dari Banyumas yang membawakan lakon Sumantri Ngenger.
Tiga lakon yang dimainkan semalam suntuk tersebut disatukan tema besar Sadhumuk Batuk Sanyari Bumi. Bubrah Ngalengka, mengisahkan betapa mencekamnya peperangan yang tanpa aturan di tanah Ngalengka.
Ketua Pepadi Pusat Kondang Sutrisno mengatakan, gerak Pepadi telah sampai di 23 provinsi di Indonesia dan 179 kabupaten/ kota, dengan ratusan ribu anggota. Bahkan Pepadi Jawa Tengah memiliki anggota yang mencapai 1.200 orang.
“Kami tidak ingin organisasi ini hanya jadi tempat ngumpul, namun juga sebagai upaya agar dunia pedalangan semakin ngrembug,” katanya.

Berbagai laku pun dijalankan Pepadi, dari festival pedalangan berbagai usia, sarasehan, diklat, konsultasi organisasi, dan yang paling inti melakukan pagelaran di setiap kabupaten minimal sebulan sekali.
“Saya berharap Jawa Tengah bisa semoncer Jawa Timur. Sini aktif, tapi di Jatim lebih aktif kegiatan sampai pagelaran,” tandasnya.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah yang juga Ketua Umum Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Provinsi Jateng Sri Puryono KS mengatakan, pihaknya mewanti-wanti agar dalang terus menjaga kehormatannya, bukan justru merendahkan derajat dengan macak jadi wayang. Terlebih di tahun politik ini, yang paling utama, dalang harus menyuarakan kepentingan bangsa dan negara.
“Kalau mau ditanggap kepentingan politik misalnya calon presiden dan wakil presiden nomer satu atau nomer dua, ya silakan. Tapi membawa kepentingan bangsa. Meski mereka memiliki hak pilih, kalau terpecah belah karena politik, jangan sampai,” katanya.
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dalam sambutannya yang dibacakan Sri Puryono mengatakan agar para dalang terus menghidupkan dan mewariskan wayang kepada generasi muda. Terutama soal pakem yang harus tetap dijaga, sabit, sabet, lakon, gending serta nggedok kotak yang tidak bisa ditawar. Tambahan teknologi dan alat musik modern pun diperbolehkan sebagai kreasi agar menarik bagi generasi muda.















