Semarang – Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Dinas Kesehatan Jateng, Arfian Nevi mengungkapkan, gangguan jiwa berat hingga berujung pemasungan masih banyak terjadi di Jawa Tengah. Hingga Juni 2018 tercatat masih ada 464 kasus penderita gangguan jiwa dipasung keluarganya.
Hal itu diungkapkan Arfian Nevi dalam diskusi Hari Kesehatan Jiwa Sedunia di kantor Dinkes Jateng, Rabu (10/10). Dikatakan Arfian, pemasungan dilakukan karena gangguan jiwa yang dialami penderita cukup akut dan membahayakan.
“Ada 464 orang dipasung di Jateng hingga Juni 2018. Yang sudah dilepas 100 orang. Ada juga yang kembali lagi setelah dirawat dan dipasung lagi, ada 15,” kata Arfian.
Arfian mengajak pihak terkait termasuk di pemerintahan agar menyelesaikan masalah pemasungan tersebut. Menurutnya, pasien seharusnya dilepas dan diobati dengan pengawasan.
Pihaknya menyebut, hal itu menjadi pekerjaan rumah bersama untuk membebaskan mereka.
“Bukan berarti dilepas begitu saja tanpa pengawasan. Harus dikendalikan dan diobati secara teratur,” jelasnya.
Sementara dari data tahun 2013, prevelensi gangguan jiwa di Jawa Tengah yaitu 2,3 per mil. Atau jika diperkirakan dengan jumlah total penduduk Jateng, berarti ada 70 ribuan warga penderita gangguan jiwa di Jateng.
“Terbanyak di Wonogiri, Magelang, dan Kebumen (data 2013). Tapi informasi kemarin ternyata di Grobogan juga banyak,” katanya.edit















