Aliran Waduk Malahayu Brebes Dihebtikan, Petani Bawang Gagal Panen

oleh

BrebesMusim kemarau yang berkepanjangan menyebabkan volume air di Waduk Malahayu di Desa Malahayu, Kecamatan Banjarharjo, Brebes menyusut. Waduk hanya menyisakan sekitar 800 ribu liter.

Akibat kemarau dan minimnya debit air, aliran air dari waduk ke sawah petani dihentikan. Kondisi itu mengakibatkan petani yang selama ini memanfaatkan aliran air waduk untuk pengairan terancam gagal panen karena lahannya kekeringan.

Waduk terbesar di Kabupaten Brebes ini memiliki daya tampung 32 juta liter. Ada lima sungai yang menjadi pemasok air di waduk ini, masing-masing Sungai Cigora, Cihalimun, Cicacaban, Sindanghayu, dan Ciomas.

INFO lain :  DPRD Jateng Sahkan Alat Kelengkapan Dewan

Kemarau panjang yang mendera wilayah Brebes telah menyebabkan debit air lima sungai itu berkurang. Cadangan air di waduk Malahayu ini pun ikut menyusut drastis.

Kepala Dinas Pengairan Sumber Daya Air dan Penataan Ruang (DPSDAPR) Kabupaten Brebes, Agus Ashari mengatakan, volume air waduk sudah di bawah ambang batas minimal atau distorage yakni 2 juta meter kubik. Atas pertimbangan volume tersebut, aliran air dari waduk ke saluran irigasi dihentikan.

INFO lain :  Ibu Muda Hilang Tenggelam di Sungai Serayu Banjarnegara

“Karena memang volumenya kurang dari 2 juta liter. Ini bisa berbahaya kalau tetap dialirkan karena volume akan terus berkurang. Keputusan ini justru untuk mengamankan fisik bendungan. Jika terus berkurang, akan berisiko terjadi retakan retakan bangunan bendungan,” kata Agus Ashari usai meninjau kondisi waduk Malahayu, Senin (8/10).

Disebutkannya, ada 12.378 hektar lahan pertanian yang terdampak dari dihentikannya aliran waduk. Area pertanian tersebut berada di Kecamatan Banjarharjo, Ketanggungan, Kersana, Tanjung dan Losari. Area ini akan mengalami kekeringan karena tidak mendapatkan pasokan air.

INFO lain :  Pembobol Minimarket di Jateng, Jabar dan DIY Dibekuk

“Dari waduk Malahayu, air biasanya didistribusikan melalui tiga bendung, yaitu Nambo, Cisadap dan Cibendung. Dari bendung ini kemudian dialirkan ke saluran dan sawah petani,” urai Agus Ashari.

Sejak air waduk tidak dialirkan, area sawah petani banyak yang terkena dampaknya. Di Kecamatan Kersana misalnya, lahan bawang merah dan cabai terancam gagal panen.edit