Oleh petugas medis langsung disuntik dan dipasang infus selanjutnya diberikan rujukan untuk dibawa ke RSUD Salatiga. Setelah mendapat rujukan dengan membawa mobil ambulan Puskesmas Pabelan, istrinya di bawa ke RSUD Salatiga dan mendapat penanganan medis di IGD. Setelah mendapat penanganan medis di IGD, petugas medis memutuskan demi keselamatan ibu dan anak agar proses persalinan segera dilakukan operasi caesar.
“Sekitar pukul 09.00 Wib istri mas Fajar ini menjalani operasi caesar. Lalu tak selang lama yakni sekitar pukul 10.45 Wib dokter yang menangani memanggil suaminya ini dan memberitahu jika anak saya telah lahir dengan baik dan dalam kondisi sehat dengan berat badan 3,5 kg dengan panjang 53 cm,”jelas Shodiq.
Mendapat kabar jika kondisi anaknya lahir dalam kondisi sehat, iFajar bahagia dan bersyukur. Namun kebahagian itu tak berlangsung lama ketika ia diberi tahu oleh petugas medis jika kondisi istrinya menurun dan harus dipindahkan ke ruangan ICU.
Sejak operasi caesar dan dipindahkan ke ICU, Rahayu tidak sadarkan diri hingga akhirnya pada hari Minggu 17 Juni 2018 sekira pukul 00.15 meninggal dunia. Fajar menduga ada dugaan malpraktik saat mengambil tindakan operasi caesar.
Sementara, Direktur RSUD Salatiga dr Pamudji beserta jajaran yang membahas tentang kasus itu, pada Selasa (16/7) menghasilkan sejumlah keputusan. Di antaranya, pasien Rahayu Suryandari hamil anak ke empat adalah suatu kondisi kehamilan yang berjesiko tinggi, dari buku catatan pemeriksaan kehamilan Rahayu Suryandari tidak secara rutin memeriksakan kehamilannya. Saat datang ke IGD RSUD Salatiga dan kondisi pasien mengalami pendarahan pervagina dan kondisi pasien lemah serta mengalami pendarahan tinggi.
“Saat dilakukan USG di ruang Ponek/persalinan hasilnya plasenta Previa/plasenta menutupi jalan lahir,” sebut Direktur RSUD Salatiga dr Pamudji.
Dokter spesialis obstetri, ujarnya, dan ginekologi memutuskan untuk memperbaiki kondisi pasien dulu dengan istirahat di ruang Ponek. Besoknya setelah kondisi pasien stabil, dokter spesialis obstertri dan gynecologi memprogramkan pasien untuk dilakukan tindakan sexio cesaria di kamar operasi.
“Operasi sendiri dilaksanakan dengan pembiasan anestesi regional. Hanya saja pada saat jalannya (operasi) tiba-tiba kondisi pasien menurun sehingga perawat bersiaga mempertahankan dengan memilihkan kondisi pasien,” terangnya.
Pada saat keluarga pasien diberi tahu bahwa kondisi pasien menurun, pihak keluarga menyampaikan pasien mempunyai sakit jantung. Setelah kondisi pasien bisa distabilkan selanjutnya pasien dikirim ke ICU.















