25 Persen Bayi di Batang Kurang Gizi

oleh

Batang – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batang, dr. Hidayah Basbeth mengungkapkan, sebanyak 25 persen dari jumlah bayi di Kabupaten Batang dalam kondisi stuting. Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.

“Stunting di Kabupaten Batang saat ini masih 25%, berarti dari 100 balita yang ada, 25 balita mengalaminya,” jelas dr Basbeth di sela Seminar Kesehatan Ibu dan Anak untuk mengetahui kualitas Sumber Daya Manusia di Aula Kantor Bupati Batang, Kamis (3/5/2018).

Dikatakannya, status gizi dan kesehatan pada masa hamil dan menyusui merupakan periode yang sangat kritis. Ditegaskannya, manfaat Air Susu Ibu (ASI) sangat berpengaruh bagi anak, terutama sebagai langkah pencegahan stunting.

INFO lain :  Hartopo Siap Beri Keterangan ke Kejaksaan

“Meskipun secara eksplisit remaja putri tidak disebutkan didalam Seribu Hari Pertama Kehidupan, namun status gizi mereka memiliki kontribusi sangat besar pada kesehatan dan keselamatan kehamilan, serta kelahiran saat menjadi Ibu,” tutur dia.

Dikatakannya, periode ini merupakan periode yang sangat sensitif karena akibat yang ditimbulkan pada bayi akan bersifat permanen dan tidak dapat dikoreksi kembali.

INFO lain :  Corona, Penerimaan Pajak di Kendal Turun

Dampak buruk yang dapat ditimbulkan oleh masalah gizi buruk adalah jangka pendek yaitu terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan perkembangan fisik, dan metabolisme tubuh anak.

“Untuk jangka panjang dapat menimbulkan terjadinya stunting yaitu pertumbuhan tinggi badan anak lebih pendek dari ukuran normal,” terangnya.

Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Batang, Uni Kuslantasi Wihaji menerangkan, perhatian terhadap ibu hamil dilakukan dengan cara mengingatkan apakah sudah memeriksakan diri, pertumbuhan janin, dan asupan nutrisi.

INFO lain :  2.727 Pendaftar Lolos SBMPTN Universitas Sebelas Maret

“Kemudian setelah lahir, menyusui dengan ASI eksklusif sampai 2 tahun atau tidak, dan masih banyak lagi,” terang Uni Kuslantasi.

Seminar Kesehatan Ibu dan Anak mengundang narasumber dr. Heni Rosita Spesialis Kejiwaan dari RSUD Kraton dan dr. J.C. Susanto Spesialis Anak dari RS Karyadi Semarang untuk membahas kesehatan ibu hamil dan pencegahan stunting pada bayi bersama Kepala Puskesmas dan perwakilan TP PKK Desa. (edi)