Batang – Sejumlah anak usia 1 bulan hingga 12 tahun di Batang diketahui mengalami kondisi stanting atau gangguan pertumbuhan. Gangguan tumbuh kembang itu menjadikan anak dalam kondisi tidak normal.
Kondisi fisik mengalami gizi buruk, lumpuh layu, cacat bawaan sejak lahir juga yang tubuhnya kaku. Beberapa bahkan tidak bisa melakukan aktivitas apa pun, hanya tergeletak atau harus dibantu oleh orangtua untuk semua kebutuhanya. Selain itu juga ada yang sulit bicara, terlambat tumbuh dan berbagai gangguan tumbuh kembang lainnya.
Kondisi itu menjadi keprihatinan karena kurangnya penanganan medis dan tidak mendapatkan perawatan atau terapi dengan baik. Anak-anak sebagian besar berasal dari keluarga tak mampu, sehingga banyak yang dibiarkan tanpa penanganan, pengobatan juga tindakan medis.
Bupati Batang, Wihaji saat meninjau pemeriksaan dan pengobatan massal yang digelar Dinas Kesehatan Batang di Kantor Bupati Batang dalam rangka peringatan hari ulang tahun Kabupaten Batang ke-52 mengaku prihatin. Diakuinya selama setahun dirinya menjabat, hal itu lepas dari pengawasannya. Kepada Dinas Kesehatan pihaknya meminta melaporkan data pasti, agar penderitanya bisa segera ditangani dengan baik.
“Saya sangat prihatin ternyata sangat banyak anak di Batang yang menderta gangguan tumbuh kembang. Kami langsung meminta bidan dan Puskesmas agar aktif memantau dan melakukan tindakan medis juga terapi warganya yang menderita gangguan tumbuh kembang. Warga yang tengah hamil, juga terus dipantau dan dicek kesehatanya agar jumlah anak-anak yang lahir dalam kondisi cacat bisa dikurangi,” kata Wihaji, Minggu (8/4/2018).
Subur, orang tua Devita (12) warga Tulis Batang, salah satu penderita mengatakan, putrinya pertama lahir normal. Namun pada usia sekitar 3 bulan, mengalami panas dan lemas sehingga tak bisa aktivitas.
“Lalu kesehatanya terus terganggu dan pertumbuhanya juga tidak normal. Putri saya selama ini hanya tergeletak dan harus digendong dan ditolong untuk melakukan aktivitas apa saja,” kata dia di sela pemeriksaan.
Senada diungkapkan Riskiatun, warga Bandar Batang. Putrinya bernama Riska, kondisinya lemas tak bisa seperti anak pada umumnya. Sejak lahir, dia mudah sakit dan beberapa kali diobati di Puskesmas, namun kondisnya justru lumpuh layu.
“Diusia yang sudah 4 tahun Nisa hanya tergeletak dan harus digendong untuk aktivitas,” kata ibu tiga anak ini sedih.edi
















