Jakarta – Warga pengguna facebooker dibuat resah atas dugaan pencurian data miliknya di situs media sosial Facebook. Tanpa sepengetahuan pemiliknya, pengelola Facebook membocorkan data privasi user Facebook dan diduga menggunakannya untuk kepentingannya. Pemerintah sendiri diminta tegas menyikapi persoalan itu. Facebook sendiri terancam dikenai pidana 12 tahun penjara.
Sekitar 1 juta data pengguna Facebook di Indonesia diduga dicuri oleh Cambridge Analytica. Temuan itu diungkapkan seorang pakar telematikan Indonesia. Atas temuan itu membuat warga, para pengguna Facebook resah karena privasinya dilanggar.
Temuan kasus itu sendiri dinilai menjadi peringatan pemerintah terkait pengaturan data pribadi warga dalam sistem online.
CTO Facebook sempat memberikan informasi terbaru tentang jumlah pengguna Facebook yang datanya disalahgunakan dalam skandal Cambridge Analytica. Pada awalnya, diperkirakan bahwa ada 50 juta pengguna Amerika Serikat yang terpengaruh.
Ternyata, ada 87 juta pengguna yang terpengaruh. Sebanyak satu juta di antaranya adalah pengguna Facebook Indonesia. Bisa jadi termasuk data pribadi pembaca.
“Satu juta orang data pengguna Facebook tanah air yang diambil bukan angka yang kecil. Ini adalah fenomena gunung es, saat masyarakat kita banyak menggunakan layanan asing dan datanya disalahgunakan,” kata pakar keamanan siber dari CissRec, Pratama Persadha mengungkapkan kepada wartawan, kemarin.
Menurut Pratama, keberadaan facebook sejak awal kacau karena sembarangan memberi ijin kepada pihak tertentu untuk mengakses privacy (data pribadi) atas akses data pengguna atau user Facebook. Diungkapkannya, saat ini setidaknya terdapat 87 juta data pengguna Facebook telah diambil dan diolah oleh Cambridge Anlytica. Jumlah itu sekitar 1.096.666 yang diantaranya data pengguna Facebook dari Indonesia.
“Fakta ini memunculkan kekhawatiran di tanah air, Kominfo sudah melayangkan surat panggilan kepada perwakilan Facebook untuk dimintai keterangan,” kata Pratama.
Pratama mengungkapkan, dalam kasus Facebook pengambilan data dilakukan secara sistematis. Salah satu pintu masuknya adalah para pengguna Facebook yang menggunakan aplikasi pihak ketiga untuk bermain kuis maupun game. Dari sanalah Cambridge Analytica masuk dan mengambil data.
Setting privasi relatif tidak berguna saat pengguna masih terhubung dengan layanan pihak ketiga di Facebook. Pengguna bisa masuk ke setting dan menghapus semua layanan pihak ketiga tersebut agar lebih aman.
Perlu diketahui Facebook tidak hanya mampu mengintip data kontak telepon penggunanya tapi juga bisa melihat isi percakapan pada Facebook Messenger. Dengan fakta ini maka publik saat ini mempertanyakan sejauh mana keamanan dan jaminan privasi Facebook, apalagi platform lain Whatsapp dan Instagram juga berada di bawah naungan Zuckerberg, pemilik Facebook.
















