Semarang – INFOPlus. Kasus penyakit antraks ditemukan di hewan ternak di Gunungkidul, DIY. Bahkan sejumlah warga yang mengkonsumsi daging hewan ternak tersebut positif tertular.
Pemprov Jateng yang berbatasan langsung dengan DIY langsung menyiapkan langkah strategis memutus potensi penyebaran antraks. Selain penyiapan vaksin dan pengetatan arus lalu lintas ternak, sosialisasi tentang antraks juga dimasifkan.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agus Wariyanto berharap masyarakat tidak perlu panik namun tetap waspada. Selain bisa diobati, penyebaran atau penularan antraks sebenarnya juga bisa dicegah sejak dini.
Agus menjelaskan penyakit antraks ditimbulkan bakteri Bacillus Anthracis. Jika hewan ternak terjangkiti, dapat tertular ke manusia. Selain itu, spora yang ditimbulkan penyakit ini, bisa bertahan hingga 75 tahun, meski bangkai hewan yang tertular telah dikubur.
“Memang penyakit ini zoonosis, bisa menular ke manusia. Tetapi upaya pencegahan penting, misal kalau terjadi antraks (bangkai hewan) dikubur, kalau perlu dicor dan ditandai. Karena sporanya bisa bertahan 75 tahun. Sehingga generasi berikutnya tahu di situ ada hewan yang tertular,” kata dia.
“Kami imbau masyarakat tidak perlu panik tapi tetap waspada. Masyarakat cepat laporkan bila mana ada hewan yang sakit. Kalau ada manusia yang sakit (diduga tertular antraks) segera berobat. Tetap jaga kesehatan ternak, jikalau terjadi terapkan prosedur, semuanya harus bergerak dari pemerintah hingga masyarakat,” jelasnya.
Medik Veteriner Disnakkeswan Jateng Slamet mengatakan antraks dapat menular melalui berbagai media. Spora antraks dapat menular melalui kontak dengan hewan dan memakan daging hewan yang tertular bakteri.
Karena itu, penting bagi warga atau peternak melakukan pencegahan dini. Bila menemukan hewan sakit dan memiliki ciri ada pendarahan di lubang tubuh, peternak perlu mewaspadainya.
“Cirinya itu pada hewan yang sakit atau mati ada gejala darah yang keluar dari mulut, kuping, kemudian hidung, dubur dan alat kelamin,” jelasnya.
Jika tertular ke manusia, ada ciri spesifik yang dilihat. Misalnya, munculnya keropeng atau borok di kulit. Jika tidak diobati, bisa menular ke bagian tubuh lain.
“Keropeng atau borok di kulit itu seperti huruf U (cekung). Segera berobat. Nanti di puskesmas atau di rumah sakit akan diambil sampel darah untuk memastikan darahnya tertular antraks atau tidak. Yang penting gaya hidup bersih pada ternak dan manusia. Dan Jangan sampai ternak yang sakit dan mati itu dimakan,” pungkas Slamet. (Ags/Ts)















