SEMARANG – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral meminta semua pihak mewaspadai terjadinya fenomena penurunan tanah atau tanah ambles di sepanjang jalur pantai utara Jawa Tengah.
Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan Kementerian ESDM Andiani mengatakan, berdasarkan kajian yang dilakukan sejak 2010, terjadi penurunan tanah di pantura.
“Seperti Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Kendal, Kota Semarang, dan Kabupaten Demak dengan luasan serta intensitas yang berbeda,” katanya, Selasa (1/12).
Menurut dia, bencana geologi berupa penurunan tanah hingga mencapai lebih dari 10 sentimeter per tahun itu mengakibatkan hilangnya lahan persawahan, tambak, permukiman, serta kegiatan ekonomi masyarakat.
Dia pun mengungkap penyebab dan analisis kondisi penurunan tanah di pantura Jateng ini beragam, sehingga upaya penanggulangannya juga berbeda.
“Penyebab utama amblesan tanah adalah adanya pengambilan air tanah yang banyak dilakukan di sektor industri komersial,” terangnya.
Andiani menjelaskan bahwa sosialisasi hasil studi geologi terpadu oleh pihaknya ini bertujuan memberikan gambaran mengenai kondisi daerah-daerah yang terindikasi adanya amblesan tanah.
“Sehingga diharapkan dapat memberikan masukan kepada para pemangku kebijakan dalam melakukan mitigasi serta adaptasi,” tegasnya.
Terkait dengan fenomena penurunan tanah, lanjut dia, Badan Geologi mengimbau kawasan pada daerah tersebut agar tetap mengutamakan penggunaan air permukaan sesuai Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2019.
“Kalau air tanah digunakan, harus dikendalikan oleh pengelola kawasan industri, baru kemudian didistribusikan kepada industri-industri,” tandasnya. (ema).















