SEMARANG – Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi belum dapat memastikan pemberlakuan skema new normal di kota yang ia pimpin. Pasalnya, hingga saat ini grafik kasus corona masih cukup tinggi.
Karena itu, menurutnya, skema normal baru di Ibu Kota Jawa Tengah itu mundur dari waktu yang dijadwalkan, menunggu tren pasien positif Covid-19 bisa dikendalikan.
“Kalau tingkat penularannya di bawah 1 ya kita jalankan ‘new normal’ (normal baru),” ujarnya, Jumat (29/5).
Namun, lanjut dia, jika tingkat penularan atau RO tidak bisa di bawah 1 maka bisa saja pelaksanaan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) diperpanjang, bahkan bisa pula dilaksanakan Pembatasan Sosial Berskala Besar.
Pemkot Semarang berencana memulai normal baru pada 8 Juni 2020, usai PKM tahap kedua selesai dilaksanakan.
Namun, ia mengatakan, telah terjadi penambahan 41 kasus positif baru COVID-19 dalam 10 hari terakhir di Semarang.
Peningkatan kasus baru terjadi menjelang Lebaran dan mencapai puncaknya pada 28 Mei 2020. Oleh karena itu, kata dia, kesiapan Kota Semarang dalam melaksanakan normal baru bergantung pada tingkat ketertiban masyarakat dalam menjalankan SOP kesehatan. “Perlu upaya bersama, perlu pengorbanan bersama, perlu saling mengingatkan,” katanya.
Di sisi lain, Hendi juga menerangkan jika new normal di berlakukan, maka pemerintah Kota Semarang tidak akan langsung melepas seluruh aturan yang di berlakukan.
“Seluruh kegiatan tidak langsung berjalan seperti sebelum ada pandemi. Semuanya akan dilakukan secara bertahap. Misalnya, untuk kegiatan sekolah mungkin akan diaktifkan Juli, tapi tetap melihat bagaimana perkembangan Covid-19 di Kota Semarang dahulu,” tandasnya.(mht)















