PEKALONGAN – Pemerintah Kota Pekalongan memperpanjang status tanggap darurat bencana hingga sepekan ke depan, Rabu (4/3). Status tersebut berkaitan dengan banjir yang melanda Kota Pekalongan hingga menyebabkan ribuan warga sempat mengungsi.
Wali Kota Pekalongan, Saelany Machfudz mengatakan, pihaknya sudah melakukan rapat bersama jajaran dinas terkait.
“Melihat situasi cuaca yang serba tidak menentu, yang tadinya status tanggap darurat bencana sudah kami tetapkan selama seminggu ini, kami perpanjang status tersebut hingga seminggu ke depan yakni tanggal 27 Februari hingga 4 Maret 2020,” katanya, Sabtu (29/2).
Saelany menjelaskan, banjir yang melanda hampir sebagian wilayah Kota Pekalongan disebabkan oleh curah hujan yang tinggi. Berdasarkan data BMKG, diperkirakan puncak musim penghujan terjadi pada akhir Februari ini.
“Perpanjangan status tanggap darurat ini karena kondisi cuaca masih tidak menentu. Meski saat ini titik genangan air ada yang telah surut. Seperti kemarin (banjir pertama), sekitar 4 hingga 5 hari surut. Ternyata malamnya hujan, banjir lagi. Mudah-mudahan tidak ada banjir lagi di Kota Pekalongan di tahun 2020 ini,” papar Saelany.
Terpisah, Wakil Wali Kota Pekalongan, Afzan Arslan Djunaid, menambahkan, dengan perpanjangan status tanggap darurat bencana tersebut, pihaknya meminta Dinas Sosial, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana bersama dengan instansi terkait untuk tetap mempertahankan keberadaan Dapur Umum Tanggap Darurat Bencana di Stadion Hoegeng, sampai curah hujan berkurang.
“Untuk kali ini kami minta agar dapur umum jangan ditutup dulu dan tetap standby. Peralatan masak dan logistik, semuanya tetap standby di sana. Kita ambil pelajaran dari sebelumnya. Jadi meskipun nanti sudah tidak ada pengungsi di sana dapur umum sudah saya minta agar tetap standby,” ucapnya. (mht)
















