PEKALONGAN – Pemerintah Kota Pekalongan mencatat capaian realisasi nilai ekspor Kota Pekalongan selama tahun 2019 tembus angka USD22,926 juta atau sekitar lebih dari Rp313 miliar.
Angka ini menunjukkan adanya peningkatan dari tahun sebelumnya di tahun 2018 yang hanya sebesar USD19,6 juta.
Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah (Dindagkop-UKM) Kota Pekalongan Sri Haryati mengatakan, kenaikan jumlah ekspor ini juga diikuti dengan kenaikan volume ekspor.
“Alhamdulillah dari tahun ke tahun realisasi nilai ekspor Kota Pekalongan terus mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan karena memang ada penambahan dari pelaku ekspor maupun jumlah volume ekspor. Ada 21 pelaku ekspor di Kota Pekalongan,” ujarnya, Rabu (22/1).
Dari 21 pelaku usaha yang melakukan ekspor itu, lanjut Haryati, sudah memenuhi syarat melakukan ekspor seperti harus berizin dan harus terdapat showroom sesuai dengan aturan yang berlaku.
Dijelaskan Haryati, adapun komoditi unggulan Kota Pekalongan yang berhasil diekspor diantaranya sarang burung walet, sarung batik, kain batik, olahan hasil perikanan, ikan asin, surimi, berbagai kerajinan craft serta teh yang menjadi komoditi baru dari Kota Pekalongan yang berhasil masuk ekspor di tahun 2019.
“Sarang burung walet, sarung batik, benang, sementara komoditi teh juga merupakan komoditi baru yang mulai tembus ekspor pada tahun 2019. Produk unggulan Kota Pekalongan tersebut menjadi langganan ekspor ke berbagai negara di dunia antara lain Malaysia, Korea, Amerika, Jepang, Spanyol, Thailand, Singapura, Sri Lanka, Jeddah, Australia, Taiwan, China, Dubai, Hongkong dan berbagai negara lainnya,” bebernya.
Produk-produk tersebut, kata Haryati, diproduksi oleh perusahaan besar sampai pelaku Industri Kecil Menengah (IKM). Menurut Haryati, Dindagkop-UKM akan terus berusaha meningkatkan nilai ekspor Kota Pekalongan setiap tahunnya dengan memberlakukan hasil pelaporan ekspor yang diminta sejak awal tahun ke perusahaan.
Selain itu, rutin menggelar berbagai pelatihan ekspor kepada IKM baru, dengan bekerjasama dengan Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Ekspor Indonesia (BBPPEI) Kementerian Perdagangan RI untuk memacu mereka dapat melakukan kegiatan ekspor mandiri.(mht)
















