Purbalingga – Polres Cirebon sudah menangkap Erwin Sahputra (30), tersangka pembunuhan terhadap Ruhyatun (36), yang informasinya selingkuhannya sendiri. Kini, tahapan penyidikan masih panjang dalam melengkapi bukti-bukti dalam kasus pembunuhan ini.
Setidaknya ada dua hal penting bagi penyidik yang harus dilakukan untuk melengkapi berkas pemeriksaan. Yakni otopsi jenazah dan rekonstruksi.
Untuk kepentingan otopsi, polisi membongkar makam Ruhyatun di Purbalingga, Sabtu (8/12/2018). Pembongkaran makam dan otopsi berlangsung kurang lebih empat jam.
Hadir di sana, Kaur Binopsnal Satreskrim Polres Cirebon, Unit Inafis Polres Cirebon, Unit Inafis Polres Purbalingga, Kanit Reskrim Polsek Talun dan keluarga korban.
Anggota Polsek Kaligondang, Polres Purbalingga melaksanakan pengamanan pembongkaran makam dan autopsi jenazah di pemakaman umum Desa Selakambang, Kecamatan Kaligondang itu.
Ruhyatun merupakan warga asal Desa Selakambang, Kecamatan Kaligondang, Purbalingga. Dia ditemukan tewas di jalan baru wilayah Desa Sampiran, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon, Sabtu (1/12/2018).
Kapolsek Kaligondang AKP Imam Hidayat mengatakan otopsi dilakukan untuk mengetahui sebab pasti meninggalnya Ruhyatun. Ada dugaan korban meninggal dunia akibat pembunuhan karena ditemukan tewas di semak-semak pinggir jalan wilayah Cirebon.
Ruhyatun merupakan warga asal Desa Selakambang, Kecamatan Kaligondang Purbalingga. Namun ia sudah tinggal bersama suaminya di Kelurahan Jagasatru, Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, Jawa Barat. Setelah ditemukan meninggal dunia, kemudian jenazah korban dimakamkan di desa asalnya.
Ruhyatun ditemukan tewas dengan kondisi jeratan dan luka tusuk di leher. Kematiannya menyisakan duka mendalam bagi keluarga.
Suami korban, Didin Syaifrudin (39) serta kedua putrinya merasa sangat terpukul dan kehilangan. Didin adalah pekerja salah satu perusahaan jasa kirim barang ke sejumlah daerah. Dia tiba di rumah, Jumat (30/11) sekitar pukul 22.00 WIB dalam kondisi kosong.
Dia pergi ke rumah orangtuanya dan melihat anak keduanya sedang tidur. Didin menelepon istrinya melalui sambungan telepon namun tidak aktif.
“Saya telepon berulang kali tapi tidak aktif. Saya berpikir positif, istri sedang menjenguk anak pertama yang sedang mondok pesantren, kata Didin.
Namun hingga Sabtu pagi, tak ada jawaban. Didin memutuskan kembali berangkat ke Bandung pada Sabtu (1/12) pukul 05.00 WIB. Empat jam kemudian, sekitar pukul 09.00 WIB, Didin mendapat kabar istrinya ditemukan tewas.
(nga/dit)
















